<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rakamura's Weblog</title>
	<atom:link href="http://rakamura.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rakamura.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 05 Nov 2007 03:42:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rakamura.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rakamura's Weblog</title>
		<link>http://rakamura.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rakamura.wordpress.com/osd.xml" title="Rakamura&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rakamura.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MANAJEMEN MEDIA</title>
		<link>http://rakamura.wordpress.com/2007/11/05/manajemen-media/</link>
		<comments>http://rakamura.wordpress.com/2007/11/05/manajemen-media/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2007 03:42:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rakamura</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rakamura.wordpress.com/2007/11/05/manajemen-media/</guid>
		<description><![CDATA[Quo Vadis Media Islam Moderat? Oleh Agus Muhammad Begitu kran kebebasan dibuka dan proses pengurusan SIUPP dipermudah, banyak orang tergoda untuk terjun di dunia pers. Kios-kios pinggir jalan dipenuhi oleh beragam tabloid, majalah dan koran baru, termasuk di antaranya media-media Islam. Sayangnya, pada saat pasar dipenuhi oleh media Islam yang menyuarakan fanatisme dan eksklusivisme, media [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rakamura.wordpress.com&amp;blog=1984467&amp;post=14&amp;subd=rakamura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Quo Vadis Media Islam Moderat?<br />
Oleh Agus Muhammad<br />
Begitu kran kebebasan dibuka dan proses pengurusan SIUPP dipermudah, banyak orang tergoda untuk terjun di dunia pers. Kios-kios pinggir jalan dipenuhi oleh beragam tabloid, majalah dan koran baru, termasuk di antaranya media-media Islam. Sayangnya, pada saat pasar dipenuhi oleh media Islam yang menyuarakan fanatisme dan eksklusivisme, media Islam moderat justru semakin hilang dari peredaran.<br />
Menjelang akhir dekade 90-an, kita menyaksikan gerakan Islam militan yang mencoba menampilkan Islam dengan cara yang berbeda dengan mainstream. Mereka tidak hanya menampilkan diri dalam bentuk identitas dan simbol keislaman yang mencolok, tetapi juga hadir dalam bentuk perjuangan yang khas, mulai dari tuntutan penerapan syariat Islam hingga penggerebekan tempat-tempat yang dianggap sarang maksiat.<br />
Pada waktu yang bersamaan, muncul juga media-media Islam dalam format yang boleh dikatakan berbeda dari media-media Islam sebelumnya, baik dari segi penyajian maupun isu yang diangkat. Dari segi penyajian, media-media ini menggunakan bahasa yang tegas, lugas dan berani, bahkan cenderung provokatif. Sementara, dari segi isu yang diangkat, media-media ini juga menurunkan tema-tema yang sensitif, termasuk yang berkenaan dengan SARA, tentu saja dengan pendekatan yang sangat mencerminkan kepentingan Islam.<br />
Dua media Islam yang sangat besar, yakni Sabili dan majalah Ummi, adalah fenomena yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Majalah Panji Masyarakat memang cukup besar dan berpengaruh pada dekade 70-an dan 80-an; demikian juga majalah Ummat sempat menjadi media Islam terbesar pada dekade 90-an. Namun, dua majalah ini tidak sefenomenal Sabili dan Ummi, terutama dari segi oplah. Pada tahun 2000, oplah Sabili diperkirakan mencapai angka di atas 100 ribu. Majalah Ummi juga tidak terpaut jauh, sekitar 80 ribu eksemplar.<br />
Sabili dan Ummi hanya dua contoh sukses media Islam yang mengusung ideologi dan fanatisme yang kuat terhadap Islam. Ada banyak media-media lain di luar dua media ini, baik yang terbit pada masa reformasi (Jurnal Islam, Lasykar Jihad, Saksi, Nur Islam, Tarbawi, Al-Izzah, Darul Islam, dan beberapa lainnya) maupun yang sudah lahir jauh sebelumnya, seperti Media Dakwah dan Suara Hidayatullah. Meski pada akhirnya bertumbangan oleh seleksi alam, media-media Islam ini cukup berhasil menyedot pembaca muslim.<br />
Absennya Media Moderat<br />
Disadari atau tidak, kisah sukses Sabili dan media-media Islam lainnya tidak bisa dilepaskan dari fenomena tumbangnya Orde Baru pada bulan Mei 1998. Drama politik paling sensasional selama tiga dekade itu menandai datangnya eforia kebebasan yang nyaris sempurna. Dan, bagi kalangan media, itulah untuk pertama kalinya selama 30 tahun, media massa mengalami masa kebebasan yang hampir-hampir tak terbatas. Bak gayung bersambut, Yunus Yosfiah, Menteri Penerangan waktu itu, melakukan terobosan penting dengan mempermudah pengurusan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Ratusan SIUPP pun keluar dari tangan Yosfiah.<br />
Media-media Islam jelas diuntungkan dengan fenomena tersebut. Sebab, sebelumnya, untuk menerbitkan sebuah media massa dibutuhkan SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers), hal yang tidak mudah diperoleh. SIUPP bukan sekadar surat izin yang harus dibeli dengan uang jutan rupiah, ia bahkan lebih mirip kepanjangan tangan dari kekuasaan. Orang boleh memiliki uang, gagasan dan keterampilan, tapi untuk memperoleh SIUPP, uang saja tidak cukup. Dibutuhkan orang yang punya akses terhadap proses pengambilan keputusan untuk bisa memperoleh SIUPP.<br />
Itulah sebabnya, begitu kran kebebasan dibuka dan proses pengurusan SIUPP dipermudah, banyak orang tergoda untuk terjun di dunia pers. Akhir dekade 90-an adalah masa pertumbuhan pesat dunia pers, baik majalah, tabloid, maupun koran. Kios-kios pinggir jalan dipenuhi oleh beragam tabloid, majalah dan koran baru, termasuk di antaranya media-media Islam.<br />
Sayangnya, pada saat pasar dipenuhi oleh media Islam yang menyuarakan fanatisme dan eksklusivisme, media Islam moderat justru semakin hilang dari peredaran. Majalah Ummat yang sempat mapan pada dekade 90-an ternyata tidak dilanjutkan penerbitannya. Padahal, pada masa jayanya, majalah ini sempat mencapai oplah 40 ribu eksemplar, suatu pencapaian yang cukup besar untuk ukuran media Islam. Jurnal Ulumul Qur’an yang sempat menjadi salah satu icon pemikiran Islam, ternyata tidak berlanjut ketika kran kebebasan dibuka lebar. Majalah Panji Masyarakat juga tidak lebih baik nasibnya.<br />
Ini tentu memprihatinkan, karena media-media Islam yang terbit sejak masa itu didominasi oleh media yang cenderung menjual “kabar-kabar kebencian” (Agus Sudibyo, Ibnu Hamad dan Muhammad Qodari, Kabar-kabar Kebencian, Prasangka Agama di Media Massa, Jakarta, ISAI, 2001).<br />
Padahal kita tahu, media merupakan faktor yang sangat penting bagi pembentukan image, citra maupun stigma. Dari medialah kita memperoleh informasi mengenai realitas yang tengah berlangsung di tempat lain. Sementara, realitas yang dihadirkan media ke hadapan kita belum tentu realitas yang sesungguhnya, tetapi realitas yang sudah dibentuk, dibingkai, dan dipoles sedemikian rupa oleh media tersebut. Melalui analisis framing kita tahu betapa secara diam-diam media mendikte otak kita mengenai “realitas” tanpa kita sadari.<br />
Konsep framing (pembingkaian) sering digunakan oleh media untuk menggambarkan sebuah peristiwa dengan menonjolkan aspek tertentu dan sekaligus menempatkan informasi dalam konteks yang khas sehingga isu tertentu mendapat alokasi dan perhatian yang lebih besar ketimbang isu yang lain. Dalam praktiknya, framing dijalankan media dengan menyeleksi isu tertentu sambil mengabaikan isu yang lain; menonjolkan aspek tertentu dari isu tersebut sambil menyembunyikan dan bahkan membuang aspek yang lain. Ini dilakukan mulai dari proses perencanaan, pengumpulan data lapangan, verifikasi dan seleksi data, penyajian dalam bentuk berita, hingga penempatannya di sebuah rubrik tertentu.<br />
Barangkali itulah sebabnya, seorang wartawan politik Amerika yang sangat terkenal, Walter Lippmann, mengatakan bahwa antara berita dan kebenaran adalah dua hal yang berbeda dan harus dibedakan dengan tegas. Bahkan ia mengatakan, dalam tradisi pers Amerika yang sangat profesional pun, ada ungkapan, “Kami lebih sering merumuskan baru kemudian mencari berita, ketimbang mencari berita dulu baru merumuskan” (Walter Lippmann, Opini Umum, Yayasan Obor Indonesia Jakarta,1998).<br />
Jika kita membaca media-media Islam yang terbit tak lama setelah Orde Baru tumbang, maka akan segera tampak betapa konsep framing diterapkan secara nyaris sempurna dalam hampir dalam setiap pemberitaannya. Media-media tersebut menyajikan berita yang secara emosional langsung menghunjam kesadaran umat. Majalah Sabili misalnya, tidak hanya dibaca oleh kalangan Islam, kalangan non-muslim pun ikut membaca. Simak alasan pembaca Katholik yang selalu setia membeli majalah Sabili: “Saya sangat menikmati nuansa permusuhan yang ditampilkan Sabili.” (Jihad Lewat Tulisan, PANTAU, Tahun II No. 15, Juli 2001).<br />
Mengapa Media Islam Moderat Surut?<br />
Pertanyaannya adalah, mengapa media Islam moderat justru surut pada saat pasar didominasi oleh media Islam yang hanya menjual kebencian dan permusuhan? Memang ada semacam asumsi pasar bahwa media Islam bukan sesuatu yang marketable. Namun asumsi ini patah oleh kisah sukses Sabili. Ada asumsi lain bahwa Islam moderat bukan tema yang cukup menarik untuk dijual. Asumsi ini pun patah oleh kisah sukses Panji Masyarakat, Ummat dan Ulumul Qur’an. Kegagalan tiga media Islam ini mempertahankan hidupnya bukan karena kehabisan gagasan atau gagasan yang diusungnya tidak menarik, tetapi lebih karena faktor manajemen: yakni tidak dikelola penerbitannya sebagimana layaknya sebuah penerbitan pada umumnya yang tidak hanya bersaing dalam soal mutu, tapi juga waktu. Yang laku bukan hanya media yang bermutu, tetapi juga yang terbit lebih dulu. Jaminan mutu dan waktu hanya bisa dipenuhi oleh manajemen yang handal, hal yang jarang ditemui dalam media Islam.<br />
Faktor manajemen memang menjadi problem serius dalam pengelolaan media Islam, khususnya media Islam moderat. Manajamen di sini tidak semata-mata dalam pengertian manajemen perusahan, di mana seluruh pengelolaan sumberdaya perusahaan diorientasikan sepenuhnya untuk menghasilkan produk berkualitas untuk memenuhi standar kompetisi, tetapi juga dalam arti manajemen redaksional, di mana daya tarik peristiwa, aktualitas berita, akurasi dan validitas data serta kredibilitas narasumber diolah dan disajikan menjadi sebuah berita yang memikat. Ini memang bukan pekerjan mudah. Apalagi media elektronik – radio, televisi dan internet – telah menyediakan informasi dengan cara yang jauh lebih murah, mudah dan cepat.<br />
Karena itu, tantangan media Islam moderat bukan hanya terletak pada bagaimana membenahi manajemen – baik manajemen perusahaan maupun manajemen redaksional – tetapi juga bagaimana memberi “nilai lebih” kepada pembaca yang kian hari kian cerdas. Dan nilai lebih ini hanya mungkin terpenuhi jika “penyajian yang memikat” diimbangi oleh kualitas yang terus meningkat dari isi sajian tersebut.[]<br />
http://islamlib.com/id/index.php?page=article&amp;id=779,Google,11/4/2007 10:33:08 AM</p>
<p>Maxtor hadirkan hiburan di rumah<br />
Produsen harddisk terbesar ketiga di dunia, Maxtor, secara resmi<br />
meluncurkan media simpan jaringan yang berfungsi sebagai pusat hiburan<br />
tanpa harus menggunakan perangkat komputer.<br />
Perusahaan yang berbasis di California, Amerika Serikat ini memang<br />
dikenal sebagai pembuat media penyimpanan data untuk perangkat komputer.<br />
Jika produk-produk Maxtor sebelumnya harus disandingkan dengan komponen<br />
PC lain, kali ini inovasi baru dibuat oleh Maxtor.<br />
&#8220;Shared Storage Plus&#8221; (SSP) Maxtor terbaru memungkinkan penyimpanan<br />
berbagai jenis data tanpa harus dibantu oleh perangkat komputer. Ketika<br />
perangkat ini dihubungkan ke jaringan, secara otomatis ia akan bekerja<br />
sebagai pusat media hiburan.<br />
Sebagai contoh saat perangkat dipakai pada jaringan rumah, maka setiap<br />
anggota keluarga dapat memanfaatkannya untuk menjalankan berbagai media<br />
digital seperti mendengarkan musik atau film. Sementara di ruangan yang<br />
berbeda anggota keluarga lain dapat bermain game atau melihat foto<br />
kenangan melalui notebook.<br />
&#8220;Shared Storage Plus merupakan perangkat hiburan yang pengoperasiannya<br />
benar-benar tidak terkait dengan komputer,&#8221; kata Paul Streit, direktur<br />
manajemen produk Maxtor. Streit juga menjelaskan tentang kemampuan<br />
multimedia dari perangkat Maxtor ini. SSP Maxtor dapat digunakan hingga<br />
10 ruangan dalam satu rumah. Selain itu SSP juga mampu memutar empat<br />
jenis film yang berbeda dalam satu waktu.<br />
SSP dibekali dengan perangkat lunak manajemen media milik Mediabolic.<br />
Perangkat lunak inilah yang memungkinkan SSP digunakan tanpa dukungan PC<br />
sebagai pusat pengolah datanya.<br />
Untuk masalah harga jual, Maxtor membandrol perangkatnya dengan harga<br />
300 dollar AS untuk SSP berkapasitas 200GB dan 400 dollar AS untuk<br />
300GB. Sedangkan SSP dengan kapasitas yang lebih tinggi yaitu 500GB<br />
kemungkinan akan dijual seharga 500 dollar AS dan baru akan dilepas ke<br />
pasar pada bulan Oktober mendatang.<br />
Maxtor juga menginformasikan bahwa pengguna yang telah memiliki SSP ini<br />
dapat men-download kemampuan tambahan perangkat sebagai pusat hiburan<br />
secara gratis di internet.<br />
http://groups.google.co.id/group/helpdeskina/browse_thread/thread/9d3caa17e33ae609/37c322d41bc3e093?hl=id&amp;lnk=st&amp;q=artikel+manajemen+media#37c322d41bc3e093,Google,11/4/2007 10:35:51 AM</p>
<p>Peran Media dalam Manajemen Konflik<br />
Program reintegrasi yang telah berjalan selama hampir dua tahun, masih<br />
menghadapi tantangan yang besar di masa mendatang. Butir-butir perjanjian<br />
yang tercantum dalam MoU belum sepenuhnya difahami secara benar.<br />
Pemaknaannya di masyarakat seringkali bergulir bebas seperti bola.<br />
Tergantung siapa yang menendang isunya.<br />
Sosiolog dari Universitas Indonesia, Dr. Thamrin Amal Tomagola, menyatakan<br />
sebenarnya butir-butir yang tercantum dalam MoU Helsinki adalah netral.<br />
Hanya saja orang-orang seringkali menerjemahkannya sesuai kepentingannya.<br />
Jika itu yang terjadi, maka apapun keluarannya pasti akan selalu dianggap<br />
bermasalah.<br />
Selama dua tahun proses reintegrasi berjalan, sebenarnya banyak hal yang<br />
telah dicapai oleh semua pihak. Terciptanya situasi keamanan yang kondusif,<br />
lahirnya UU Pemerintahan Aceh, terselenggaranya Pilkada yang bebas dan aman,<br />
dan munculnya partai lokal adalah sebagian bukti nyata kemajuan yang telah<br />
dicapai dari proses reintegrasi yang tengah berjalan itu. Namun di balik<br />
kisah sukses itu memang ada beberapa hal yang belum terealisasi, di<br />
antaranya pembentukan Komisi Bersama Penyelesaian Klaim, Komisi Kebenaran<br />
dan Rekonsiliasi (KKR), dan pembentukan pengadilan HAM.<br />
Pembentukan lembaga-lembaga itu, awalnya memang ditujukan sebagai upaya<br />
memperkuat perdamaian dengan mengupayakan adanya keadilan terutama kepada<br />
para korban konflik. Namun dalam kenyataannya, prinsip itu seringkali di<br />
balik, yakni dengan mengedepankan kepentingan politik terlebih dahulu<br />
ketimbang prinsip keadilannya. Pada saat kepentingan politik masuk, tentu<br />
akan ada resistensi dari kelompok-kelompok yang secara politis dirugikan.<br />
Sehingga kalau perbenturan kepentingan ini tidak bisa dikelola dengan baik,<br />
cepat atau lambat konflik politik akan terjad.<br />
Konflik politik (di samping ekonomi) dalam berbagai kasus konflik lokal yang<br />
terjadi di Indonesia, seperti Sampit, Ambon, bahkan Poso, seringkali menjadi<br />
sumbu pemicu lahirnya aksi-aksi kekerasan di masyarakat. Sumbu itu bisa<br />
menyala dan meledak apabila ada bahan bakar di sekelilingnya serta ada<br />
tangan yang menyulutkan api.<br />
Aceh yang saat ini relatif aman, sebenarnya masih menyimpan bahan bakar yang<br />
berpotensi memicu kembali konflik yang disertai kekerasan. Indikasinya bara<br />
amarah yang tercipta selama puluhan tahun konflik belum sepenuhnya padam.<br />
Keadilan di bidang politik, ekonomi dan hukum juga masih menjadi pertanyaan<br />
besar. Sementara pranata sosial yang dulu menjadi perekat kebersamaan di<br />
masyarakat, saat ini masih terserak-serak. Untuk menata kembali berbagai<br />
pranata sosial itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan mengelola<br />
konflik (conflict management).<br />
**<br />
*Peran Media*<br />
Management konflik adalah cara mengelola konflik agar tidak berkembang<br />
menjadi kekerasan. Media mempunyai peran yang besar untuk itu.<br />
Semasa konflik berkecamuk, posisi media di Aceh sangat tidak menguntungkan.<br />
Mereka dipaksa untuk memihak salah satu kubu yang saling berhadapan yaitu<br />
TNI dan GAM. Pada masa itu hampir tidak ada berita yang obyektif karena<br />
kuatnya sensor dan tekanan dari kedua pihak. Media tak ubahnya seperti humas<br />
dari kedua kubu yang berkonflik. Jika hari ini menjadi humas TNI, besok<br />
menjadi humas GAM<br />
Pasca penandatanganan nota kesepahaman damai (MoU), semestinya media bisa<br />
menentukan sendiri sikapnya. Kepentingan media adalah menyampaikan<br />
obyektivitas sedekat mungkin. Membela kaum yang tidak tersuarakan untuk<br />
bersuara namun dengan sikap yang berimbang serta mencerdaskan pembacanya,<br />
agar dapat keluar dari kungkungan pemikiran salah yang membelenggunya.<br />
Kenyataan berbicara lain. Jika kita membaca tulisan-tulisan di media massa<br />
di Aceh khususnya pasca MoU, justru masih banyak wartawan yang terbelenggu<br />
oleh cara-cara pemberitaan gaya lama yang berlaku semasa konflik. Hal ini<br />
dapat dilihat misalnya dalam pemilihan narasumber, penentuan judul,<br />
penggunaan istilah-istilah, dan lain-lain.<br />
Dalam pemilihan narasumber, media masih banyak terjebak pada pemilihan<br />
narasumber resmi yang berasal dari pejabat. Penelusuran dengan menggunakan<br />
investigatif reporting masih sangat kurang, sehingga informasi yang<br />
disampaikan kepada masyarakat adalah informasi versi elit, baik dari TNI,<br />
Polisi, Gubernur ataupun Komite Peralihan Aceh (KPA). Latar belakang<br />
sosiologis masyarakat, kondisi perekonomiannya, tingkat pengangguran, atau<br />
masalah lain yang mungkin bisa menjelaskan secara lebih logis munculnya<br />
sebuah peristiwa jarang terungkap. Penyajian informasi yang tidak utuh ini<br />
sangat potensial menyebabkan terjadinya misinformasi. Apalagi kalau disertai<br />
dengan penyajian judul-judul yang sensasional serta penggunaan-penggunaan<br />
istilah yang akrab semasa konflik, semisal orang tidak dikenal (OTK),<br />
orang-orang berambut cepak, orang-orang terlatih, pajak nanggroe, dan<br />
lain-lain<br />
Wartawan dan media massa sepatutnya menyadari peran dan fungsi media sebagai<br />
alat komunikasi massa. Sebagai alat komunikasi massa, media dapat<br />
memperkeruh suasana atau sebaliknya menjadi alat pencerahan. Semasa perang<br />
suku terjadi di Rwanda, Radio Mile Collins menjadi sarana penyebar kebencian<br />
antar ras. Dampaknya hanya dalam waktu sekitar tiga bulan dari April sampai<br />
Juli 1994, sekitar 800 ribu orang tewas dibantai. Sebaliknya di Yugoslavia,<br />
di saat pemerintah dan militernya menggelorakan semangat nasionalisme sempit<br />
dalam perang kotor di Bosnia, sekelompok wartawan yang menjadi awak Radio<br />
B92 justru melakukan kampanye &#8220;Serbia Calling&#8221; atau Panggilan Serbia untuk<br />
mengajak warganya melawan pembunuhan, meski para awak radio itu terperangkap<br />
di bawah arus politik yang tidak memihak kepadanya. Kisah B92 menunjukkan di<br />
tengah transisi sekalipun, media dapat ikut berperan penting dalam<br />
menentukan hitam putihnya perjalanan sebuah masyarakat.<br />
Lalu, seperti apakah peran yang diharapkan dari media dalam situasi transisi<br />
di Aceh saat ini? Apa saja hal yang boleh dan sebaiknya tidak boleh<br />
dilakukan oleh wartawan di Aceh? Untuk membahas itu, Badan Narasumber Damai<br />
Aceh, sebuah lembaga yang berada di bawah BRA bermaksud menyelenggarakan<br />
sebuah workshop untuk para jurnalis di Aceh<br />
http://groups.google.co.id/group/forbesdamai/browse_thread/thread/8e552aebfc68ad9f/a0a16945fe589f7f?hl=id&amp;lnk=st&amp;q=manajemen+media&amp;_done=%2Fgroup%2Fforbesdamai%2Fbrowse_thread%2Fthread%2F8e552aebfc68ad9f%2Fa0a16945fe589f7f%3Fhl%3Did%26lnk%3Dst%26q%3Dmanajemen%2Bmedia,Google,11/4/2007 10:40:42 AM</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rakamura.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rakamura.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rakamura.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rakamura.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rakamura.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rakamura.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rakamura.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rakamura.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rakamura.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rakamura.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rakamura.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rakamura.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rakamura.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rakamura.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rakamura.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rakamura.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rakamura.wordpress.com&amp;blog=1984467&amp;post=14&amp;subd=rakamura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rakamura.wordpress.com/2007/11/05/manajemen-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fc1976ae7ab9b0902864789b63dc383?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rakamura</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BROADCASTING</title>
		<link>http://rakamura.wordpress.com/2007/11/05/broadcasting/</link>
		<comments>http://rakamura.wordpress.com/2007/11/05/broadcasting/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2007 03:26:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rakamura</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rakamura.wordpress.com/2007/11/05/broadcasting/</guid>
		<description><![CDATA[TV Broadcasting Multimedia Broadcast berhubungan dengan media televisi yang terdiri dari perpaduan antara multimedia aplikasi komputer dengan alat-alat yang bernuansa broadcasting. Di Indonesia banyak hadir televisi swasta yang telah memunculkan program-program acara yang cukup menarik untuk dinikmati. Dari mulai acara News, Sinetron, Film laga, Komedi, Hingga berbagai macam tayangan kuis yang kesemuanya itu menggunakan alat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rakamura.wordpress.com&amp;blog=1984467&amp;post=13&amp;subd=rakamura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TV Broadcasting</p>
<p>Multimedia Broadcast berhubungan dengan media televisi yang terdiri dari perpaduan antara multimedia aplikasi komputer dengan alat-alat yang bernuansa broadcasting. Di Indonesia banyak hadir televisi swasta yang telah memunculkan program-program acara yang cukup menarik untuk dinikmati. Dari mulai acara News, Sinetron, Film laga, Komedi, Hingga berbagai macam tayangan kuis yang kesemuanya itu menggunakan alat broadcast televisi yang bagus untuk standar televisi.</p>
<p>Multimedia Broadcasting memadukan antara unsur pengambilan sebuah gambar dan permainan sebuah effect kamera yang terdapat pada setting menu serta jenis kamera dan sebuah effect software komputer yang dimainkan oleh seorang animator. Dari perpaduan kedua unsur tersebut dapat menghasilkan output tampilan yang sangat mengagumkan dan mempunyai nilai jual sangat tinggi di dunia broadcasting.<br />
Tidak mustahil jika semakin banyak channel televisi yang muncul di layar kaca maka semakin banyak pula Production House yang menawarkan jasa untuk memproduksi sebuah program acara yang kemudian akan di jual ke pihak televisi.<br />
Penayangan sebuah program acara televisi bukan hanya tergantung pada konsep penyutradaraannya saja atau kreatifitas penulisan naskah, melainkan sangat bergantung pada kemampuan profesionalisme dari seluruh kelompok kerja di dunia broadcast dengan seluruh mata rantai divisinya (Naratama, 2004, hal 62). Dalam memproduksi suatu format acara Talk Show yang saat ini masih menjadi acara unggulan bagi para pemirsa televisi, diperlukan suatu kerjasama yang profesional antar setiap divisi satuan kerja produksi, serta alat produksi yang memenuhi syarat agar dapat menyajikan sebuah acara televisi Talk Show yang dapat memberikan nilai pendidikan, hiburan dan informasi untuk pemirsa televisi. </p>
<p>Meskipun satuan kerja produksi bekerja di bidang tugas yang berbeda, tetapi semuanya hanya mempunyai satu tujuan, yaitu menghasilkan karya produksi yang akan digunakan sebagai acara siaran dan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Karena itu sebelum melangkah ke pelaksanaan produksi semua anggota kerabat kerja harus mendapat informasi yang cukup, sehingga semua kegiatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan rencana produksinya serta agar tidak terjadi kesalahan yang fatal saat jalannya proses produksi.<br />
http://bhanusrinugraha.wordpress.com/tv-broadcasting/,Google,11/4/2007 10:10:17 AM</p>
<p>‘Tips’ Untuk Pewawancara Radio<br />
Perspektif Online<br />
18 February 2006<br />
Sepulangnya dari Miri, acara WW mengambil tempat di Lounge Trijaya FM, Gedung Bimantara lantai 2, Kebon Sirih Jakarta. Dengan staf yang terdiri atas ex-KBR 68H, ex Elshinta dan ex Trijaya sendiri, stasion ini berniat meningkatkan kualitas siaran dalam bidang wawancara, baik format maupun konten. Untuk keperluan ini, WW diminta berbagi cerita pengalaman sebagai Interviewer dalam menghadapi narasumber.<br />
Acara Sabtu pagi tanggal 18 Februari ini digelar oleh Trijaya sebagai bahan masukan untuk para broadcaster, produser, dan Station Manager Trijaya dalam menghadapi narasumber dalam forum wawancara atau talkshow.<br />
Kehadiran WW ditemani Wulan, disambut oleh Tias Anggoro [Station Manager Trijaya] dan Lia Christie [Announcer &amp; Producer]. Tepat pukul 10.00 WW mulai bercerita pengalaman menjadi interviewer. Dihadiri oleh crew Trijaya yaitu ; Tias, Lia, Riri, Dodi, Chisya dan beberapa lainnya, WW bercerita pengalaman di dunia broadcasting yang ia geluti sejak 1993. Walaupun berlatar belakang bukan dari profesi broadcasting, performance dan skills WW dikenal baik dalam menghandle narasumber. “Baik atau buruknya suatu talkshow atau wawancara ditentukan oleh bagaimana si pewawancara membawa diri” begitu ungkap WW sebelum mulai wawancara.<br />
Hal yang pertama ditekankan adalah bahwa interviewer harus menanggalkan ego waktu dia melakukan wawancara. Walaupun  broadcaster pasti orang yang ber-ego positif, tapi selama sekian menit wawancara, alihkan perhatian pendengar kepada tamu radio atau narasumber. Terus, kita sebagai interviewer harus menghidupkan perasaan senang atau paling tidak curious terhadap tamu. Orang pasti ada bagusnya ada jeleknya. Pada waktu kita mewawancara tamu, kita harus sensitif pada keduanya itu. Jadi kita bisa tonjolkan kelebihannya, dan bukan kelebihan pewawancara, yang harusnya bisa terdengar orang dengan sendirinya.<br />
Senangilah tamunya, dan senangilah diri sendiri. Be happy with what you are dan jangan kedengaran frustrasi. Paling nggak enak kita mendengar pewawancara yang mengeluh. Selanjutnya kesenangan pada diri sendiri diterjemahkan menjadi pede, percaya pada kemampuan diri sendiri untuk menghadapi narasumber. Siap dengan materi, siap dengan kepribadian tamu, pelajari kedua-duanya. Daftar pertanyaan yang disediakan oleh producer bukan syarat mutlak sebagai patokan seorang interviewer dalam menghadapi narsum di sebuah wawancara. Kita bisa membuat pertanyaan dengan improvisasi dan tidak begitu menyimpang. Itu adalah ciri wawancara yang baik. Daftar pertanyaan dapat dijadikan inspirasi yang dapat kita kembangkan. Yang penting wawancara mengalir, tidak macet pada satu titik.<br />
Banyak pertanyaan yang muncul dari kru trijaya, misalnya bagaimana menghadapi narsum yang “agak jutek”. WW biasanya menyiasati dengan personal approach, membuat narsum nyaman sebelum acara wawancara berlangsung. Diusahakan agar disaat wawancara berlangsung, ia tidak segan dan merasa sudah nyaman, tidak ragu dalam mengungkapkan, dan menjawab pertanyaan dari interviewer. Biarkan public yang menilai jutek atau tidaknya narsum, tugas interviewer adalah membuat acara tersebut berlangsung terus.<br />
Ada lagi yang bertanya, apakah menurut WW, wawancara dengan lebih dari satu orang dapat menghasilkan suatu acara yang baik? Menurut WW, format yang terbaik adalah wawancara satu lawan satu. Cara ini dapat lebih menjamin fokus dalam memberikan pertanyaan dan menjawab.<br />
Bagaimana bisa mengenal dan menemukan narasumber yang baik? Perluas pergaulan , kata WW, untuk menjadi seorang interviewer yang baik. Perluas pergaulan tidak hanya dalam lingkungan pekerjaan, bisa juga dari pergaulan biasa dan dunia web, misalnya blog, friendster, dan sebagainya. Tugas pewawancara adalah mengulik suatu informasi dari narsum tanpa harus membuat narsum merasa terdesak atau tidak nyaman atau bahkan marah. Hal ini juga dapat dibina dari karakter pribadi yang baik. “Positive thinking” begitulah singkatnya, salah satu tips agar dapat menjadi good interviewer, selain masih banyak lagi tips yang diberikan oleh WW. Pengembangan kemampuan wawancara tidak berbeda jauh dengan pengembangan pribadi pada umumnya.<br />
Momen yang penting dalam suatu wawancara adalah saat akhirnya. Berhenti disaat wawancara memuncak, adalah cara yang efektif untuk menjaga minat pendengar. Dengan catatan ini, sharing session berakhir.</p>
<p>Digital Video Broadcast Handheld<br />
Digital Video Broadcast Handheld (DVB-H)merupakan sistem dalam teknologi telepon pintar (smart phone) yang dikembangkan berdasarkan konvergensi layanan dari siaran televisi digital teresterial dan jaringan komunikasi mobile.<br />
DVB-H merupakan standar yang dikembangkan oleh DVB Organization, khusus untuk memungkinkan telepon seluler menayangkan siaran televisi. Standar ini sangat penting mengingat cukup besarnya konsumsi daya yang dihabiskan untuk mengaktifkan fitur ini. Mobilitas, layar dan antena yang lebih kecil, serta jangkauan di dalam ruang juga menjadi alasannya. Standar DVB-H memadukan standar televisi tradisional dengan elemen spesifik untuk peranti genggam.<br />
Dengan teknologi DVB-H, pengguna dapat menonton sekaligus merekam acara siaran televisi favorit. Channel televisinya pun menjangkau channel internasional. Hanya saja menikmati channel tersebut, pengguna atau pelanggan mesti membayar dengan pulsa yang dimilikinya.<br />
DVB-H merupakan satu dari empat sistem digital yang tersedia di dunia, yaitu Advanced Television Systems Committee (ATSC) di gunakan di Amerika Serikat dan Korea. Integrated Services Digital Broadcasting Terrestrial (ISDB-T) di gunakan di Jepang dan Brazil. Digital Multimedia Broadcasting Terrestrial / Handheld (DVB-T/H) di kembangkan di Cina. Sementara Digital Video Broadcasting Terrestrial (DVB) digunakan di negara-negara Eropa dengan seratus negara sebagai pengguna.<br />
Di tahun 2006, sudah lebih dari 10 jaringan DVB-H yang ada di seluruh dunia sudah melakukan percobaannya. Selain Amerika Serikat juga Inggris, Jerman, Perancis, Italia, Australia, dan beberapa negara lain. Tahun 2007, Amerika kemungkinan akan didominasi jaringan DVB-H.<br />
http://id.wikipedia.org/wiki/Digital_Video_Broadcast_Handheld,Google,11/4/2007 10:16:01 AM</p>
<p>Hasil Rangkain Pertemuan Ke -17 ASEAN-KOREA<br />
Trade Negotiating Commitee (AK-TNC)<br />
Rangkaian Pertemuan ke-17 ASEAN-Korea Trade Negotiating Committee (AKTNC) telah dilaksanakan pada tanggal 8-13 April 2007 di Seoul &#8211; Korea, Myanmar. Pertemuan dilaksanakan back-to-back dengan :</p>
<p>a. Pertemuan Working Group on Trade In Services dan Working Group On Investment.<br />
b. Pertemuan ke 3 ASEAN-Korea Sub-Committee On Tariffs and Rules of Origin (AKSTROO) tanggal 9-10 April 2007.<br />
c. Pertemuan ke 3 ASEAN-Korea Working Group on Economic Cooperation (AK-WGEC) tanggal 8-10 April 2007.<br />
d. Inagurasi pertemuan ASEAN-Korea Working Group SPS and TBT tanggal 11-12 April 2007<br />
Pertemuan ke-16 AKTNC dipimpin secara bersama oleh Mr. David Chin, Former Director General of Trade (Singapura) sebagai Lead Negosiator dari pihak ASEAN dan Mr. Kim Hansoo, Deputy Minister of Trade (Korea) sebagai Lead Negosiator dari pihak Korea.<br />
Delegelasi Indonesia dipimpin oleh Direktur Kerjasama Regional, Ditjen KPI Dep. Perdaganan, dengan anggota terdiri dari unsur &#8211; unsur, Dep. Luar Negeri (Ditjen Hukum Perjanjian Internasional, Ditjen Kerjasama ASEAN), Dep. Keuangan (Badan Kebijakan Fiskal Tim Koordinasi Bidang Jasa/TKBJ, Tim Tarif, serta Ditjen Bea dan Cukai), Dep. Perindustrian (Pusakin, Badan Litbang, Ditjen IAK), Dep. Kehutanan, Badan Karantina Dep. Pertanian, Bank Indonesia, Atase Perdagangan KBRI Korea, dan Wakil dari Ditjen KPI, Dep. Perdangan.<br />
Pertemuan ini membahas (i) Persiapan Implementasi Trade In Goods;(ii) Finalisasi Draft text Trade in Services;(iii) Draft text agreement Investasi;(iv) Hasil pertemuan Working group Eonomic Cooperation ke-3; dan (v) Hasil pertemuan Inagurasi Working Group TBT/SPS.<br />
Pokok &#8211; pokok hasil pertemuan tersebut antara lain sebagai berikut;<br />
A. TRADE IN GOODS<br />
Perrtemuan AKSTROO ke 3 :<br />
1.	Operasionalisasi ROO, seperti custom contact point and focal point, specimen signature and official seals, softcopy MFN tariff rate negara anggota ASEAN;<br />
2.	Persiapan imlementasi persetujuan AKFTA seperti : revisi daftar produk untuk Gaesong Industrial Complex (GIC List) dalam HS 2007, Indicative Tariff Reduction Schedule, transposition HS 2002 ke dalam HS 2007 untuk TIG Agreement, notifikasi proses ratifikasi, transposisi PSR dari HS 2002 ke HS 2007, reciprocal arrangement, electronic issuance of Certificate of Origins (Cos), exchange note for back-to-back COs dan monitoring pemanfaatan COs.<br />
Contact Point &amp; Focal Point<br />
Pertemuan sepakat bahwa penyampaian Specimen dan official seal selanjutnya hanya diperuntukan bagi penggantian ataupun penambahan.<br />
Status Ratifikasi &amp; Legal Enactment<br />
Dalam pertemuan ini Korea menjelaskan bahwa dari 440 anggota Parlemen hanya 6 anggota yang berposisi menolak persetujuan FTA.</p>
<p>Pada pertemuan tersebut Indonesia menginformasikan mengenai proses ratifikasi yang telah diselesaikan melalui Peraturan Presiden dan proses penerbitan legal enactmen yang akan segera difinalisasi.<br />
Revisi GIC List ke dalam HS 2007<br />
Revisis GIC List diharapkan selesai hinga akhir pertemuan AKTNC di Seoul dan hanya Filipina dan Thailand yang belum menyampaikan daftar Revisi GIC List tersebut.</p>
<p>Indicative Tarif Reduction Schedule<br />
Negara yang belum menyampaikan daftar indikasi penurunan tariff yaitu Cambodia, Filipina dan Thailand.</p>
<p>Karena adanya proses transposisi ke HS 2007 maka disepakati untuk menyerahkan dalam HS 2007 bersama tabel korelasinya segera setelah transposisi masing-masing Negara selesai.<br />
Revisi Transposisi untuk PSR<br />
Revisi ini tertuang dalam 3 List. Sedangkan Filipina, Singapura dan Vietnam secara subtansi dapat menyepakati List. 2 dan 3 namun meminta reservasi untuk dapat melakukan review. </p>
<p>Mekanisme Resiprositas AKFTA<br />
Yang menjadi acuan pembahasan penerapan prinsip Mekanisme Resiprositas yang dijelaskan oleh Malayasia dan Vietnam adalah Tabel korelasi dari Vietnam dan ekstrak dari buku kepabeanan Malayasia.</p>
<p>Tariff Rate Quota (TRQ)<br />
Pihak ASEAN dalam pertemuan AKSTROO dan TNC mempertanyakan beberapa hal terkait pelaksanaan TRQ antara lain; Metode pendistribusian Kuota, Peningkatan volume quota, Penurunan tariff in quoata, Review mechanism, Sistem monitoring pemanfaatan kuota, Prosedur administrative penggunaan kuota.<br />
Losing Balance on the Concession<br />
Dalam hal “losing balance” Korea telah menyampaikan proposal kepada Indonesia sebagai upaya penyeimbang tersebut dan menawarkan 2 opsi yaitu : Tambahan fleksibilitas 5 % untuk NT dan Penundaan prinsip resiprositas.</p>
<p>Khusus opsi ke 2 Korea menjelaskan bahwa terdapat 422 pos tariff ST Indonesia yang berada dalam NT Korea sehingga menjadi objek dari ketentuan resiprositas dan tidak berhak menikmati preferenasi tariff NT. Namun demikian Korea bersedia menunda hingga 9 bukan penerapan tersebut.<br />
B. Working Group on Services<br />
Penyampaian Request and offer</p>
<p>Indonesia telah menyampaikan Request and Offer sebelum pertemuan dimulai. Berkaitan dengan request and offer telah diadakan pertemuan informasi secara bilateral antara Indonesia dan Korea untuk menjelaskan kepentingan masing-masing negara tanggal 12 April 2007.<br />
Draft Agreement on Services ASEAN-Korea Free Trade Area (AKFTA)<br />
Legal of commitment<br />
Perjanjian dibidang jasa dalam AKFTA harus bernilai lebih dari GATS atau dengan kata lain GATS Plus, dengan minimum level sama dengan GATS ASEAN akan memberikan AFAS-4 (kumulasi AFAS 1 sampai 4) plus-minus.<br />
Permanent Resident<br />
Disepakati untuk menggunakan GATS teks dengan footnote. Draft footnote tersebut akan dibuat oleh legal expert ASEAN dengan isi tidak menyimpang dari komitmen dan hak setiap Negara yang tercantum dalam GATS.<br />
Branch<br />
Karena kata branch masih dalam perdebatan dan masih belum ada kesepakatan, isu ini akan diserahkan ke Ministerial Level untuk diputuskan.<br />
Cabotage In Maritime Transport<br />
Karena Filipina, Indonesia, Malayasia, Myanmar dan Vietnam tetap meminta agar Cabotage dikeluarkan dari text of Agreement. Dan akhirnya Korea menyampaikan fleksibilitasnya untuk setuju bahwa Cabotage In Maritime Transport dikeluarkan dari text of Agreement.<br />
Taxation<br />
Filipina dan Malayasia mengusulkan isu taxation untuk tidak dimasukan dalam perjanjian ini, karena taxation merupakan hak sovereigtity setiap Negara, untuk itu diberlakukan sesuai dengan peraturan domistik masing-masing Negara.<br />
Subsidi<br />
Singapura meminta agar diberikan waktu untuk konsultasi internal dan akan memberikan konfirmasi pada pertemuan yang akan datang.<br />
Safeguard<br />
Untuk isu safeguard masih adanya perbedaan pendapat, maka disepakati ada 3 alternatif yang akan dibahas yaitu : tetap seperti usulan Korea, sesuai usulan Thailand, dan artikel sesuai dengan ACFTA-TIS.<br />
Payment and Transfer<br />
Masalah ini akan dibahas setelah ada hasil pertemuan financial Experts yang akan diadakan tanggal 25 Mei 2007 di Jakarta.<br />
Measures for Macro-economic and Fianancial Stability<br />
Masalah ini juga akan dibahas setelah ada hasil pertemuan financial Experts yang akan diadakan tanggal 25 Mei 2007 di Jakarta.<br />
Broadcasting Reference Paper<br />
Masalah Broadcasting Reference Paper dimasukan dalam text Agreement pada artikel 29 Miscellaneus Provisions dengan menambah para 3 yaitu “The exchange of notes shall apply between the parties that exchange notes” . Dengan demikian para 2 artikel 25 Additional Commitments yang menyangkut Broadcasting dihilangkan.<br />
Perubahan ini akan dibawa kembali ke Negara masing-masing untuk dikonsultasikan dan kemudian akan dibawa pada pertemuan berikutnya.<br />
Annex Financial Services<br />
Masalah ini akan dibahas kembali pada pertemuan yang akan datang, karena banyak pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan beberapa Negara ASEAN.<br />
Annex Telecommunication<br />
Karena dari Indonesia dan Malayasia tidak hadir, maka pembahasan Annex Telecommunication ini akan dilakukan pada pertemuan berikutnya di Chiang Mai.<br />
C. Working Group Investment<br />
Dalam pertemuan ini dibahas juga isu-isu yang belum disepakati sebagai berikut :<br />
1.	Dalam artikel Scope of coverage masih terdapat perbedaan persepsi antara Korea dengan ASEAN dalam hal pemberian Proteksi pada Investasi portofolio dan selain itu ASEAN menyampaikan bahwa Mode 3 Services Incidental to the 5 sector dipindahkan ke services chapter.<br />
2.	Pada artikel National Treatment (NT) dan artikel Most Favoured National (MFN) masih adanya beda prinsip perlakuan terhadap investasi Korea, sehingga perlu didiskusikan lebih lanjut.<br />
3.	Pada artikel performance Requirement, ASEAN tetap pada pendiriannya yaitu hanya berdasarkan TRIMs saja, sedangkan Korea menginginkan TRIMs plus terkait dengan domestic hiring dan technologi transfer.<br />
4.	Pada artikel Minimum Standar of Treatment, ASEAN termasuk Indonesia tidak setuju dengan kalimat Customary International Law Minimum Standard of Treatment.<br />
5.	Untuk Schedule of Commitments, korea meminta ASEAN memakai Annex I dan Annex II.<br />
6.	Pada artikel transfer 3 (f) Indonesia mengusulkan untuk mengganti kalimatnya menjadi Severance entitlement of employees.<br />
7.	Dalam artikel Defenition (Juridical Person of a Party), kata “branch” tidak dapat diterima oleh ASEAN termasuk Indonesia, karena Indonesia hanya mengenal Kantor Perwakilan.<br />
8.	Pada artikel Senior Management and Board of Directors (SMDB) ASEAN termasuk Indonesia dengan tegas menyampaikan pada Korea tidak diterima usulan tersebut, karena setiap Negara memiliki peraturan yang berbeda mengenai hal ini.<br />
D. Working Group Economic Cooperation<br />
Pertemuan WG-Economic Cooperation dilaksanakan tanggal 9-10 April 2007 dengan pembahasan sebagai berikut :<br />
1.	Hasil pertemuan ASEAN-Korea Trade Negotiating Committee (AKTNC) ke 15 &amp; 16.<br />
2.	Perkembangan 6 proyek yang telah disepakati pada pertemuan WG-EC ke 2.<br />
3.	Proposal proyek baru.<br />
4.	Workplan WG-EC tahun 2007.<br />
Perkembangan 6 proyek yang telah disepakati pada pertemuan WG-EC ke 2 :<br />
1.	Executive Trainning Program for ASEAN SMEs (Project Propenent : Tahiland)<br />
• Proyek ini melibatkan 8 negara anggota ASEAN (kecuali Brunai Darussalam dan Singapura)<br />
• Kegiatan tersebut direncanakan dalam 4 (empat) tahap dari Mei – Nopember 2007.<br />
• Tahap Pertama CLM<br />
• Tahap Kedua (Malayasia)<br />
• Tahap Ketiga (Filipina dan Thailand)<br />
• Tahap Keempat (Indonesia dan Vietnam)<br />
2.	ASEAN-Korean Women SME Network (Project Propenent : Tahailand)<br />
Proyek ini dibiayai oleh Korea dan akan dilaksanakan bulan Oktober 2007 di SBTI, Seoul Korea dengan partisipan 2 (dua) orang dari setiap Negara anggota ASEAN.<br />
3.	Study Visit to ROK by ASEAN officials concerning four environmental areas (Project Propenent : Korea).<br />
o	Solid waste management<br />
o	Environmentally sound technologi and clean production<br />
o	Biodiversity<br />
o	Environmental awareness and education.<br />
4.	Project on natural gas vehicles (Project Propenent : Korea)<br />
o	Proyek ini akan dilaksanakan awal tahun 2008<br />
o	Terjadi perubahan judul menjadi CNG Vehicle Supply and Technology Cooperation.<br />
5.	Capacity building on FTA Negotiations for CLMV (Project Propenent : Vietnam)<br />
o	Korea mengusulkan Proposal Kedua mengenai Capacity Building Program for Financial Services Liberalisation yang akan dilaksanakan tahun ini dengan total partisipan 8 orang.<br />
6.	ASEAN-ROK Cooperation Workshop for the Facilitation of Trade of Broadcasting Services In the Digital Economy (Project Proponent : Korea)<br />
Proposal Proyek Baru<br />
9 program yang dianggap penting bagi Negara anggota ASEAN, antara lain :<br />
1.	The Empowerment of SMEs (Proposal Indonesia)<br />
2.	Capacity Building in development of dyeing and finishing for textiles (Proposal Indonesia)<br />
3.	Kombinasi proyek Development of renewable anergy equipment to support Biofuel program dan Biofuel (proposal Indonesia)<br />
4.	Estabilishing testing laboratory of information Technology Equipment (ITE) (Proposal Indonesia)<br />
5.	Upgrading technical capabilities of SMEs in the agro-based processing in the post harvest value chain (proposal Malayasia)<br />
6.	Educaation and awareness on IP (Proposal Myanmar)<br />
7.	Scholar and Intern program (Proposal Myanmar)<br />
8.	Strengthening capacity of custom border enforcement in combating counterfeit trademarks and geographical indication (Proposal Vietnam), dan<br />
9.	Enchancement of Logistics Services Management (Proposal Vietnam)<br />
5 proyek untuk dibahas pada WG-EC ke 4 dan diendosed pada AKTNC di Vietnam adalah :<br />
1.	Seminar on Intellectual Property Rights dimana didalamnya akan mencakup Copyrigt Cooperation Project (Korea)<br />
2.	Educaation and awareness on IP (Proposal Myanmar)<br />
3.	Legal Culture Exchange and Legisiation Reform Support Project (Korea)<br />
4.	Establishing testing laboratory of information Technology Equipment (ITE) (Indonesia) diubah Korea menjadi Training on ITE Testing and Certification System, dan<br />
5.	Enhancement of Logistics Services Management (Vietnam)<br />
Workplan WG-EC tahun 2007<br />
1.	Proyek Proposal disampaikan kepada Sekretariat ASEAN selambat-lambatnya tanggal 18 Juni 2007.<br />
2.	Sekretariat ASEAN akan memeriksa proposal tersebut dalam waktu 2 (dua) minggu dan akan mendistribusikan proposal tersebut kepada Negara anggota ASEAN dan Korea tanggal 2 Juli 2007 untuk mendapatkan tanggapan dari negara lain.<br />
3.	Negara anggota ASEAN dan Korea diberi waktu 8 (delapan) minggu (9 Juli – 24 Agustus 2007) untuk mengevaluasi dan memberikan tanggapan terhadap proyek yang diajukan.<br />
4.	Negara anggota ASEAN dan Korea memberikan tanggapan/masukan terhadap proposal proyek tersebut kepada Sekretariat ASEAN selambat-lambatnya tanggal 27 Agustus 2007.<br />
5.	Sekretariat ASEAN menyampaikan tanggapan/masukan yang telah dikumpulkan kepada Negara pengaju proposal tanggal 10 September 2007.<br />
6.	Negara Pengaju proposal akan merevisi kembali proposal tersebut dalam kurun waktu 17 – 30 September 2007.<br />
7.	Revisi proposal tersebut disampaikan kembali kepada sekretariat ASEAN selambat-lambatnya tanggal 1 Oktober 2007 untuk dibahas dalam WG-EC ke 4 di Laos.<br />
Mekanisme Indonesia dalam mengajukan Proposal dalam Kerangka Kerjasama ASEAN-Korea FTA :<br />
a.	Sektor Pembina mengajukan proposal tersebut kepada BAPPENAS dengan tembusan kepada Dit. Kerjasama Regional, Ditjen Kerjsama Perdagangan Internasional, Dep. Perdagangan.<br />
b.	Setelah memeriksa proposal tersebut sesuai dengan kemauan AKFTA, BAPPENAS meneruskan proposal tersebut kepada Dep. Perdagangan.<br />
c.	Departeman Perdagangan cq. Dit. Kerjasama Regional akan menyaring kembali proposal tersebut dan kemudian clean-proposal akan diteruskan kepada Sekretariat ASEAN.<br />
E. Working Group TBT/SPS<br />
Pertemuan Inagurasi Working Group TBT/SPS dilaksanakan pada tanggal 12 April 2007 yang diadakan dengan pertemuan ASEAN Caucus tanggal 11 April 2007. Pertemuan dipimpin bersama oleh Wahano Diphyana, Badan Karantina Dep. Pertanian Indonesia dari ASEAN dan Yound-Sik Park dari Ministry Affairs and Trade Korea Dalam bidang SPS ASEAN mengajukan 8 (delapan) area kegiatan<br />
Dalam bidang TBT ASEAN mengajukan 4 (empat) area kegiatan.<br />
F. Working Group on Legal Scrubbing (WGLS)<br />
Pertemuan WGLS dihadiri oleh delegasi ASEAN yang berasal dari Indonesia, Malayasia, Singapura, Thailand, Vietnam dan Korea.WGLS berhasil menyepakati hal-hal sebagai berikut :<br />
a.	Draft Letter od Understanding mengenai Back-to-Back of Origin<br />
b.	Draft Letter od Understanding mengenai Tariff Rate Quota<br />
G. Pengamatan dan Tindak Lanjut<br />
Goods<br />
1.	Mempersiapkan tanggal implementasi yang direncanakan per 1 Juni 2007, maka setiap Negara harus segera menerbitkan legal enactment termasuk Indonesia.<br />
2.	Disamping itu penyusunan table korelasi ST untuk pos tariff yang terdapat dalam Sensitive Track juga harus segera diselesaikan dan disampaikan kepada pihak Korea.<br />
Services<br />
1.	Berhubung dengan semakin dekatnya penandatanganan TIS-AKFTA ini oleh Menteri Ekonomi ASEAN dan Korea, yaitu pada bulan November 2007, perlu adanya pembahasan perbaikan Request and Offer<br />
Investasi<br />
1.	Korea tetap ingin cakupan pre-establisment dan post-establisment dimasukan ke dalam pada Artikel Scope of Coverage dan Indonesia keberatan dengan cakupan preestablisment. Korea juga menginginkan TRIMs plus dan SMDB dengan alasan bahwa hal tersebut sesuai dengan permintaan investor Korea.<br />
Economic Cooperation<br />
1.	Pembahasan proyek pada pertemuan WG-EC kali ini memakan waktu yang cukup lama karena membahas berbagai proposal yang sebagian besar berasal dari Indonesia.<br />
2.	Pada dasarnya proyek proposal yang diajukan Indonesia sudah mempunyai ide yang bagus, namun banyak Negara anggota ASEAN yang belum sependapat dengan Indonesia akan pentingnya proyek tersebut karena proyek Indonesia yang diajukan bersifat teknis dan tidak mewakili kepentingan negara anggota ASEAN.<br />
3.	Diharapkan wakil dari proponent proyek guna memberikan penjelasan atas proposalnya kepada Negara anggota ASEAN secara rinci dan memperkuat negosiasi Indonesia dalam pertemuan WG-EC dimaksud.<br />
4.	Setiap anggota diharapkan untuk memeriksa kelayakan proposal dari masing-masing sektornya apakah sudah memenuhi kriteria kerjsama ekonomi ASEAN-Korea yang disepakati, sehingga pertemuan WG-EC selanjutnya tidak akan banyak membuang waktu membahas proposal yang bersifat bilateral.<br />
5.	Korea cenderung menyetujui proyek yang tidak.<br />
6.	Pembahasan proyek pada pertemuan WG-EC kali ini memakan waktu yang cukup lama karena membahas berbagai proposal yang sebagian besar berasal dari Indonesia.<br />
TBT &amp; SPS<br />
1.	Pertemuan WGC TBT &amp; SPS berjalan dengan lancer dan kooperatif dimana kedu belah pihak saling bertukar informasi mengenai peraturan di masing-masing Negara.<br />
Legal Scrubbing<br />
1.	Dari draft TIS yang telah disepakati sampai pertemuan AK TNC ke 17 ini, terdapat klausul mengenai modification of schedules yang masih perlu dikaji kembali apakah sudah sesuai dengan keinginan dan kepentingan Indonesia, karena sedikit berubah dari formulasi yang ada dalam GATS.<br />
Pertemuan AKTNC-18<br />
Pertemuan ASEAN-Korean Trade Negotiating Committee ke 18 akan dilaksanakan pada tanggal 5-8 Juni 2007 di Ha Noi, Vietnam.<br />
http://www.dkp.go.id/content.php?c=3905,Google,11/4/2007 10:19:16 AM</p>
<p>Digital Video Broadcasting (DVB)<br />
Digital Video Broadcasting merupakan revolusi besar dalam dunia internet. Khususnya dalam kebutuhan akses downlink atau downstream, yang merupakan salah satu komponen penting dalam dunia internet (komponen lain nya adalah uplink atau upstream, karena internet membutuhkan komunikasi dua arah)<br />
Hanya dengan menggunakan parabola TV biasa yang murah, LNB dan kabel TV seperti biasanya dan diperlukan sebuah decoder DVB Box ataupun DVB card PCI yang di tancapkan dalam sebuah komputer personal (PC) biasa.<br />
Sejarahnya dimulai ketika orang mulai menyiarkan (broadcast) multimedia dalam bentuk digital, baik film, audio, ataupun data teks dan gambar dengan format Digital Video Broadcasting atau disingkat DVB.<br />
Penyiaran ini ternyata menggunakan protokol TCP/IP (transmission control protocol/internet protocol) yang tentu saja notabene adalah protokol yang sama digunakan oleh dunia internet.<br />
DVB hanya berfungsi mendapatkan downstream untuk mendapatkan upstreamnya harus tetap menggunakan link local atau ISP yang telah ada sebelumnya.<br />
Akses DVB tentunya tetap membutuhkan koneksi Upstream yang harus disediakan oleh provider sebelumnya. Untuk itu agar efektif dalam hal pembiayaan maka komposisi peruntukan bandwith harus seperti demikian :<br />
DVB sebagai akses bandwith international khusus downstream<br />
Local ISP sebagai akses bandwith lokal IIX sebagai downstream dan sebagai upstream ke semuanya baik lokal IIX maupun upstream international.<br />
Menurut catatan IDC (International Data Communication) maka pertumbuhan internet sebesar 1% akan meningkatkan perekonomian suatu negara sebesar 3%. Maka internet sebagai agent of development atau agen pembangunan menjadi sangat penting dan DVB merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan tersebut.<br />
http://www.sukainternet.com/index.php?pilih=internet2&amp;id=1163556753&amp;page=2,Google,11/4/2007 10:26:16 AM</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rakamura.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rakamura.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rakamura.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rakamura.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rakamura.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rakamura.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rakamura.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rakamura.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rakamura.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rakamura.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rakamura.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rakamura.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rakamura.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rakamura.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rakamura.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rakamura.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rakamura.wordpress.com&amp;blog=1984467&amp;post=13&amp;subd=rakamura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rakamura.wordpress.com/2007/11/05/broadcasting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fc1976ae7ab9b0902864789b63dc383?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rakamura</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JURNALISTIK</title>
		<link>http://rakamura.wordpress.com/2007/11/05/jurnalistik/</link>
		<comments>http://rakamura.wordpress.com/2007/11/05/jurnalistik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2007 03:06:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rakamura</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rakamura.wordpress.com/2007/11/05/jurnalistik/</guid>
		<description><![CDATA[Melahirkan Jurnalis dari Para Blogger Perjalanan nasib Blogger di Semarang Acara yang di support oleh KDW (Kelompok diskusi wartawan) Telkom dan Loenpia.net (Komunitas Blogger Semarang) yang terlaksana beberapa waktu lalu ini membahas tentang indahnya sebuah kreatifitas menulis yang tentu saja untuk melahirkan bibit-bibit jurnalisme profesional dari kota loenpia ini. Kegiatan ini diisi oleh perwakilan dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rakamura.wordpress.com&amp;blog=1984467&amp;post=8&amp;subd=rakamura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Melahirkan Jurnalis dari Para Blogger</p>
<p>Perjalanan nasib Blogger di Semarang<br />
Acara yang di support oleh KDW (Kelompok diskusi wartawan) Telkom dan Loenpia.net (Komunitas Blogger Semarang) yang terlaksana beberapa waktu lalu ini membahas tentang indahnya sebuah kreatifitas menulis yang tentu saja untuk melahirkan bibit-bibit jurnalisme profesional dari kota loenpia ini.</p>
<p>Kegiatan ini diisi oleh perwakilan dari KDW yaitu ketuanya M. Saronji dan media Suara Merdeka, Ibu Sonya Helen Sinombor salah satu wartawan senior harian Kompas dan Loepia [dot] net yaitu Komunitas Blogger Semarang. Kegiatan ini di buka dengan sedikit gambaran tentang dunia jurnalistik oleh M. Saroji dimana seorang wartawan itu tidak boleh sembarangan, ada kode etik jurnalistiknya jadi tidak cuman liputan hingga dijadikan sebuah berita. Penulisan artikel yang baik dengan rumus 5W1H baca: lima we satu ha, yaitu What? (Apa), Who? (Siapa), Where? (Dimana), When? (Kapan ), Why? (Kenapa) dan How? (Bagaimana), rumus penulisan ini harus ada dalam tiap unsur penulisan yang baik, hal ini dijelaskan oleh Ibu Sonya Helen Sinombor. Dan penghujung akhir acara diisi oleh Loenpia [dot] net yang mengenalkan media blog dan teknik pembuatan blog sekaligus etika para blogger seperti halnya dilarang meng-copypaste dalam hasil karyanya, pembuatan blog ini menggunakan mesin blogspot yang sudah akrab dalam dunia blog di internet. Dan saya disini sebagai Loenpia [dot] net mungkin mewakili mesin multiply yang juga kategori blog namun dengan style yang berbeda.<br />
Blog Your Mind, sebuah acara yang diharapkan melahirkan bibit profesionalisme dalam bidang penulisan ini digelar di gedung kopegtel lantai 3, ruko Pemuda Mas, jalan pemuda 150 blok A14 berlangsung sekitar lima jam dan ini sangat bermanfaat dan menyenangkan terutama acara intinya yaitu pelatihan pembuatan blog yang dibimbing seluruhnya oleh loenpia [dot] net dan diikuti oleh dari beberapa kalangan antara lain para wartawan, pondok pesantren, kalangan universitas dan umum.</p>
<p>Kegiatan ini diharapkan para masyarakat dunia nyata kenal dan akrab dengan salah satu kegiatan yang ada di dunia maya yaitu blog, sebab kegiatan di dunia maya seperti chatting dan browsing sudah melekat dan diketahui oleh masyarakat kita namun, blog, journal atau disebut juga diary online ini salah satu kegiatan positif yang di beberapa kota sudah banyak pemakainya namun di kota Semarang hal ini masih kurang diminati. Diharapkan dari pelatihan ini dapat melahirkan blogger-blogger aktif dan sukses hingga mengikuti perkembangan dunia jurnalisme dan blog yang makin pesat.</p>
<p>http://fiandigital.multiply.com/journal/item/59/Melahirkan_Jurnalis_dari_Para_Blogger,Google,11/4/2007 9:14:16 AM</p>
<p>Langkah-langkah menuju sukses bidang jurnalistik<br />
March 4, 2007 |<br />
“Making a true decision means committing to achieving a result, and then cutting yourself off from any other possibility.” Tony Robbins<br />
Keputusan merupakan langkah pertama menuju sukses di bidang jurnalistik. Jika Anda ragu dengan dunia jurnalistik, dunia media, dunia wartawan dunia radio, televisi, surat kabar dan online, Anda jangan coba-coba terjun. Penderitaan menunggu Anda jika tidak ada keputusan mengenai risiko dan keuntungan masuk dunia media massa.<br />
Banyak diantara rekan yang belum mengambil keputusan mantap memasuki dunia ini sehingga di tengah jalan mundur. Tidak cocok untuk saya, lalu beralih ke karir lain. Nah bagi Anda, yang ragu-ragu meski memiliki minat besar dan pengalaman banyak berkaitan dengan media, Anda harus putuskan dulu. Saya 100 persen komit di dunia jurnalistik.<br />
Jika tidak ada keputusan tetap jangan harap Anda bisa berhasil. Anda akan menjadi bagian dari dunia massa, namun Anda berada di pinggiran. Anda tidak masuk kedalam top jurnalis di Indonesia maupun di dunia. Masih beruntung jika Anda berada di tengah-tengah antara yang memang sukses di karir ini dengan mereka yang maju mundur.<br />
Bagi mereka yang berada di dalam lembaga media &#8211; radio, televisi, surat kabar, majalah atau online &#8211; namun masih ragu-ragu, maka tahun ini ambil keputusan, Anda mendalami seratus persen bidang Anda. Kalau Anda berkarir sudah lebih dari 3 tahun namun masih belum merasakan kemajuan secara profesional dan finansial, maka saatnya Anda mengambil keputusan. Maju seratus persen atau mundur seratus persen. Keputusan setengah hati akan berakibat penyesalan seumur hidup. Anda berada di dalam namun tidak profesional, tidak mumpuni dan tidak dapat berkembang.<br />
Bagi mereka yang akan memasuki dunia media &#8211; sekarang peluang sangat luas &#8211; apakah masuk televisi, radio atau media cetak dan online, maka pelajari dulu sisi positifnya dan sisi kekurangannya. Hidup di media massa tidaklah glamour seperti dibayangkan. Pergulatana media massa adalah pergulatan dengan denyut masyarakat. Orang yang bekerja di media massa bagaikan lampu yang menerangi sekelilingnya. Apakah lampu Anda akan terang atau buram, tergantung bagaimana Anda mengungkapkan kreatifitas di dunia media.<br />
Namun keputusan hendaknya bulat, tidak setengah-tengah. Anda masuk dunia jurnalistik dengan tekad bulat untuk sukses. Dan untuk mencapai sukses, Anda bersedia mempersiapkan diri dengan berbagai perangkat keahlian di bidang jurnalistik layaknya seorang prajurit di medan tempur.<br />
http://www.journalist-adventure.com/?p=86,Google,11/4/2007 9:00:05 AM</p>
<p>Tips masuk dunia jurnalistik<br />
Jul 23rd, 2006 by Editor<br />
Banyak pertanyaan seputar bagaimana memasuki dunia jurnalistik ketika sebuah lowongan dipasang. Bagaimana caranya ? Mengapa saya gagal ? Saya baru lulus bisakah masuk ke dunia jurnalistik. Lalu mau melamar bagaimana caranya ?<br />
Pertanyaan serupa pernah muncul dalam benak saya sebelum memasuki dunia jurnalistik.<br />
Salah satu tip untuk memasuki dunia jurnalistik adalah kesiapan dari dalam diri kita ? Apakah kita benar senang melihat bagaimana kesibukan para wartawan, presenter televisi atau radio dan berbagai tokoh jurnalistik berbicara soal media ? Jika ya, maka teruskan pada tahap berikutnya.<br />
Mengapa minat menggebu ini penting ? Karena dengan modal inilah semua kesulitan bisa diselesaikan. Minat yang tinggi dinggal digabung dengan skills, misalnya membuat cv dan wawancara.<br />
Jika minat sudah ada, maka mulailah bertindak menuju dunia jurnalistik dengan banyak menulis, banyak membuat analisa dan membuat opini di media massa di kota Anda. Identifikasi minat Anda. Bila bermimat di dunia sastra, mulailah dengan menulis puisi, prosa atau cerpen. Mulailah sekarang juga apalagi bagi yang akan lulus. Tulisan Anda di sebuah media daerah atau bahkan media nasional akan memperkuat bobot Anda dibandingkan dengan rekan lainnya ketika sama-sama mengajukan lamaran ke sebuah perusahaan.<br />
Jika tidak bisa dimuat, saran Mochtar Lubis, buatlah tulisan setiap hari &#8211; sekali lagi setiap hari &#8211; di buku harian Anda. Membiasakan memberi komentar dan deskripsi akan memberikan kekuatan dan modal penting dalam liputan di masa datang. Saran Mochtar Lubis &#8211; tokoh sastra ini &#8211; sangatlah berarti karena begitu Anda memang tuts komputer atau pena, kadang-kadang Anda tidak berani mengungkapkan perasaan, opini atau argumentasi. Anda menjadi pemalu.<br />
Nah bagaimana Anda bisa pemalu menulis komentar tentang peristiwa di sekitar Anda mulai dari kasus korupsi, banjur, got mampet, kemarau panjang dan angkot yang tidak disiplin, kalau bisa berbicara dan berdebat dengan rekan Anda tentang suatu masalah yang lagi hot. Kebiasaan menulis buku harian &#8211; tidak selalu tentang romantisme Anda &#8211; mengenai topik sosial, nasional dan internasional akan membuat Anda terbiasa dan terbuka dalam mengajuka pendapat. Anda juga bisa terbiasa menuliskan secara runtut dan logis.<br />
Bila sudah selesai, kaji dan baca kembali. Siapa tahu memang dari situ kelihatan bakat Anda dalam penulisan. Tidak selalu tentu tulisan pertama akan menjadi karya yang terpuji, tetapi Anda telah mengawali langkah untuk memasuki karir di dunia jurnalistik.<br />
Sekali lagi mulailah menulis. Tulis apa saja, beri komentar apa saja. Lalu perlahan-lahan buatlah ulasan terhadap peristiwa yang menarik minat Anda. Keluarkanlah seluruh pengetahuan dan daya analisa Anda, niscaya ini akan menuntun ke dunia lebih luas dalam tahap awal dunia jurnalistik.<br />
Jangan menyerah jika selama satu hari, Anda tidak menulis apapun karena merasa buntu pikiran. Saat kesulitan seperti itulah yang menentukan apakah Anda menyerah atau terus maju.<br />
http://freejournalist.wordpress.com/2006/07/23/tips-masuk-dunia-jurnalistik-1/,Google,11/4/2007 8:53:04 AM</p>
<p>Tips masuk dunia jurnalistik<br />
Jul 24th, 2006 by Editor<br />
Ada sebuah nasihat dari seorang pakar marketing dan karir. Kebanyakan orang untuk mengambil sebuah karir adalah tidak mengambil keputusan. Orang ragu-ragu apakah karir yang akan dimasuki memiliki masa depan baik? Atau cocokkah dengan karakter saya ? Apakah saya mampu ? Saya tidak punya keahlian di bidang ini sebelumnya ? Saya tidak punya pengalaman menulis ?<br />
Sang pakar ini memberi nasihat. Putuskanlah terlebih dahulu. Buatlah keputusan. Pilihlah jalan hidup Anda! Demikian apa yang disarankannya. Diterima atau tidak, kadang-kadang kita tidak memutuskan terlebih dahulu mau kemana.<br />
Jika Anda memutuskan masuk dunia jurnalistik apakah sebagai wartawan bidang media cetak atau elektronik, segera ambil. Jangan menunggu sampai habis waktu kita. Bertanyalah mengenai prospek di bidang ini kepada sahabat, rekan atau orang yang bisa diminta pertimbangkan.<br />
Setelah mengambi keputusan, tuliskanlah. Tuliskan keputusan itu diatas sehelai kertas atau di sebuah file atau di sebuah blog. Tuliskan dengan rinci tujuan Anda dalam karir itu. Tidak menuliskan secara eksplisit untuk keperluan Anda sendiri, maka keputusan itu tidak lain adalah harapan kosong.<br />
Jika kita memutuskan sesuatu kemudian menuliskannya, maka energi akan menyatu antara harapan dan kenyataan. Antara apa yang dipikirkan dengan apa yang akan terjadi. Tangan dan pikiran serta seluruh energi dalam tubuh Anda tersalur kedalam tulisan itu. Keputusan tidak akan jadi harapan kosong. Keputusan itu telah menjadi energi.<br />
Langkah selanjutnya akan mengikuti keputusan yang ditulis itu. Langkah-langkah berikutnya akan beranjak dari keputusan yang telah ditulis. Tidak percaya ? Coba tuliskan, apa yang Anda kehendaki dengan masuk dunia jurnalistik. Lalu apa langkah-langkah berikutnya. Tanpa ada rincian, sekali lagi keputusan itu tinggal angan-angan Anda.<br />
http://freejournalist.wordpress.com/2006/07/24/tips-masuk-dunia-jurnalistik-2/,Google,11/4/2007 8:55:35 AM</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rakamura.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rakamura.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rakamura.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rakamura.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rakamura.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rakamura.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rakamura.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rakamura.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rakamura.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rakamura.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rakamura.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rakamura.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rakamura.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rakamura.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rakamura.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rakamura.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rakamura.wordpress.com&amp;blog=1984467&amp;post=8&amp;subd=rakamura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rakamura.wordpress.com/2007/11/05/jurnalistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fc1976ae7ab9b0902864789b63dc383?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rakamura</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PUBLIC RELATION</title>
		<link>http://rakamura.wordpress.com/2007/11/05/public-relation/</link>
		<comments>http://rakamura.wordpress.com/2007/11/05/public-relation/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2007 02:51:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rakamura</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rakamura.wordpress.com/2007/11/05/public-relation/</guid>
		<description><![CDATA[Dunia PR dalam Tantangan Globalisasi A.B. Susanto* Banyak sekali informasi yang negatif yang berkeliaran di samudra global tentang Indonesia dan termasuk diantaranya berkaitan erat dengan dunia bisnis Indonesia. Sementara dunia bisnis seolah tak berdaya menghadapinya. Sehingga bukan hanya rupiah saja yang menjadi bulan-bulanan inforamsi global, tetapi juga aspek bisnis lain, seperti investasi, hutang bahkan produk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rakamura.wordpress.com&amp;blog=1984467&amp;post=12&amp;subd=rakamura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dunia PR dalam Tantangan Globalisasi<br />
A.B. Susanto*<br />
Banyak sekali informasi yang negatif yang berkeliaran di samudra global tentang Indonesia dan termasuk diantaranya berkaitan erat dengan dunia bisnis Indonesia. Sementara dunia bisnis seolah tak berdaya menghadapinya. Sehingga bukan hanya rupiah saja yang menjadi bulan-bulanan inforamsi global, tetapi juga aspek bisnis lain, seperti investasi, hutang bahkan produk ekspor kita. Isu-isu seperti lingkungan hidup untuk produk-produk hasil hutan, dan isu-isu lain seperti dumping, sangat  mempersulit ekspor kita.<br />
Ini jelas mencerminkan betapa lemahnya kemampuan PR kita. Termasuk kurang handalnya pemanfaatan teknologi. Teknologi dalam era globalisasi sekarang ini tidak hanya sekedar suatu alat. Teknologi menawarkan kebebasan untuk mempraktekkan kemampuan pemasar melalui cara-cara baru, diantaranya  dalam  bidang komunikasi pemasaran.<br />
Public relations (PR) sebagai salah satu pilar terpenting dalam komunikasi pemasaran untuk menciptakan reputasi perusahaan, juga mengalami dampaknya. Dalam strategi komunikasi global para praktisi PR memposisikan diri di front line yang mengkomunikasikan sasaran, pesan-pesan utama, target publics, dan rencana-rencana perusahaan.<br />
PR bukanlah  fungsi manajemen yang dapat berdiri sendiri. Bersama sarana komunikasi pemasaran lainnya akan membentuk integrated marketing communications,  merupakan cara yang paling efektif dalam mengkomunikasikan pesan-pesan utama kepada pelanggan, shareholders, karyawan dan staf perusahaan, serta target publics yang lain.<br />
Integrated marketing communications, yang didukung oleh Internet, memperkecil error dan miscommunications yang dapat menimbulkan kebingungan  pelanggan. Gabungan upaya-upaya pemasaran ini membantu untuk meyakinkan target publics untuk membeli produk, menggunakan layanan atau berinvestasi.<br />
Dalam keterkaitannya dengan globalisasi pula, terdapat sejumlah  persoalan yang timbul dalam public affairs dewasa ini. Salah satunya adalah hukum dan budaya yang beraneka serta persoalan yang  berhubungan dengan news media. Muncul pula tantangan untuk mencapai konsistensi citra dan policy di seluruh dunia. Dan yang tak kalah pentingnya adalah perbedaan yang mendasar pada struktur politik antar daerah dan negara.<br />
Menghadapi situasi ini, tantangan terberat bagi praktisi PR adalah perannya sebagai pengelola dan pendamai sistem nilai, kepercayaan dan ideologi perusahaan dengan lingkungan sekitarnya. Peran ini mesti  didukung oleh status PR sebagai interpreter perusahaan dan pencipta social policy yang menempatkan  organizational behavior sebagai panduan. Mereka juga mempengaruhi dan men’damai’kan persepsi publik dalam konteks global.<br />
Selain itu, peran praktisi PR saat ini, sebagai penasihat public relations, menjadikan praktisi PR untuk memfokuskan diri pada strategi komunikasi dan pemberi saran pada hal-hal yang signifikan seperti nilai-nilai dan kultur yang dianut masyarakat.<br />
Praktisi PR harus selalu menjadi well-informed persons dengan strong sense pada riwayat dan pengetahuan akan kejadian-kejadian yang terkini. Praktisi PR juga harus mempunyai nalar yang tajam dan mempunyai wawasan kosmopolitan, dalam arti sensitif terhadap nuansa multikultural dan internasional yang /melingkupi publik perusahaan.<br />
Berbagai ragam cara dapat ditempuh. Mempelajari bahasa asing selain bahasa Inggris, mempelajari hal-hal penting bagi perusahaan yang bermacam-macam, meningkatkan pengetahuan internasional dengan melakukan perjalanan ke luar negeri yang cukup sering, menjalin relasi  dengan orang-orang dari berbagai macam kultur dan negara.</p>
<p>Peran Internet<br />
Berkat teknologi, praktisi PR dapat menerima dan mengirimkan informasi lebih cepat dan mendapatkan instant response time di tingkat lokal maupun internasional. Dua puluh lima tahun yang silam, media cetak dan media visual dianggap cukup untuk mengirimkan pesan atau berita mengenai perusahaan, namun dirasa masih sangat mahal.<br />
Lima belas tahun yang lalu, berkat adanya desktop publishing, kita bisa menerbitkan newsletter walaupun harga printing dan mailing masih relatif mahal. Sekarang, berkat internet, kita bisa melakukan apa saja yang berkaitan dengan upaya  berhubungan dengan publik melalui e-mails dengan sistem global, voice mail, situs perusahaan, dan worldwide video conferencing network.<br />
Internet memberikan sederet keuntungan bagi praktisi PR.  untuk menciptakan peluang menghadirkan pelanggan-pelanggan tanpa harus disaring terlebih dahulu, menyeleksi sendiri informasi-informasi yang penting, meningkatkan two-way communications melalui kemudahan memberikan dan menerima feedback, memfokuskan pada more active information-seeking publics.<br />
Dengan menggunakan jasa Internet, praktisi PR harus juga menjadi synthesizer. Ia bisa menciptakan homepage dan menyempurnakannya setiap hari,  membuat iklan, mendesain brosur, menaruh cerita-cerita yang relevan dengan perkembangan bisnis perusahaan, menulis ceramah, mengkoordinasikan event atau seminar, merencanakan dan menjalankan sales meeting.</p>
<p>Efektifitas &amp; Komitmen<br />
Praktisi PR juga harus mempunyai cara berpikir dan memecahkan masalah yang unik dan efektif. Terdapat beberapa langkah untuk meningkatkan efektivitas kegiatan PR, diantaranya adalah mengadakan kontak yang lebih efektif dengan the right customers, menyampaikanpesan-pesan utama yang  relevan dan konsisten, serta mengindentifikasi  apa saja tentang perusahaan yang ingin didengar oleh pelanggan. </p>
<p>Hal lain yang tidak boleh ditinggalkan adalah mengatur proses komunikasi dengan menggabungkan dan mengkoordinasikan pesan-pesan marketing, produksi, customer service dan distribusi.<br />
Komitmen merupakan prasyarat menuju suksesnya PR yang harus dipahami diantarangnya  adalah komitmen terhadap usaha-usaha yang berlandaskan etika, komitmen terhadap  teknologi komunikas, komitmen terhadap  perkembangan profesionalitas, serta kemampuan untuk menciptakan “interconnectedness”, di mana perusahaan sebagai bagian dari ekosistem bisnis harus mengembangkan kerja sama dengan kompetitor, supplier, dan pelanggan.<br />
PR merupakan representatif perusahaan baik bagi media, pelanggan, community leaders, atau government officials. PR harus  mempunyai kemampuan untuk membuat major impact dalam lingkungan bisnis. Berkat teknologi dan globalisasi, PR dapat memainkan peran yang penting dalam mendefinisikan hubungan perusahaan dengan seluruh bagian dunia. PR harus memperkirakan dan mempertimbangkan perubahan-perubahan yang digerakkan oleh teknologi dan globalisasi dalam komunikasi, sehingga mereka dapat mempersiapkan diri mereka sebagai komunikator yang handal dan profesional.<br />
http://jakartaconsulting.com/art-99-03.htm,Google,11/4/2007 9:19:39 AM</p>
<p>Public Relation </p>
<p>Selain kemampuan teknis dan kemampuan berbahasa Inggris, kemampuan manajerial juga menjadi kompetensi dasar untuk menjadi seorang PR.<br />
Dewasa ini, informasi dan komunikasi berkembang sangat pesat. Bahkan dapat dikatakan, era yang sekarang merupakan era informasi. Tidak hanya di dunia, melainkan juga di Indonesia. Ini terlihat dari banyaknya media yang muncul di Indonesia. Siapa yang menguasai informasi maka ia akan menguasai dunia. Pesatnya perkembangan informasi dan komunikasi ini menjadi faktor pendorong maraknya pendidikan di bidang komunikasi. Seperti pendidikan Public Relations (PR).<br />
&#8221;PR merupakan dampak dari berkembangnya informasi di suatu negara. Karena itu, PR sangat erat kaitannya dengan media. Hal ini dikarenakan, PR harus menjangkau orang dengan jumlah yang banyak. Yang hanya dapat dijangkau dengan menggunakan bantuan media,&#8221; jelas Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi The London School of Public Relations (LSPR) Jakarta Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, APR.<br />
Prita menjelaskan, peminat program studi PR semakin meningkat dari hari ke hari. Ini karena masih banyak masyarakat yang melihat profesi PR sebagai profesi yang glamor. Padahal, tambahnya, PR berfungsi sebagai orang yang mengemas informasi dari suatu instansi untuk kemudian disebarluaskan kepada masyarakat. PR juga berfungsi sebagai orang yang memberikan image instansinya kepada masyarakat luas. Karena itulah, PR dituntut untuk memiliki beberapa kompetensi. Seperti kompetensi di bidang sosiologi dan antropologi tidak hanya secara nasional, tapi juga secara internasional.<br />
PR juga harus memiliki kemampuan bahasa yang memadai. Setidaknya bahasa Inggris yang telah menjadi bahasa dunia. Sehingga seorang PR dapat berkomunikasi dengan siapa saja tanpa terhalang bahasa. Dasar-dasar logika pun menjadi penting bagi seorang PR. Karena pekerjaannya yang tidak lepas dari common sense. Selain itu, PR juga harus memiliki pengetahuan seputar bidang yang digelutinya. Karena PR merupakan ujung tombak suatu instansi yang memberikan informasi kepada masyarakat. &#8220;Jika PR tidak mengerti bidang masalah yang dijalaninya, maka bagaimana ia akan menyampaikan informasi kepada orang lain,&#8221; jelas Prita.<br />
Untuk mencapai kompetensi itu, LSPR melakukan beberapa hal. Seperti menggunakan kurikulum yang berasal dari London Chamber of Commerce of Industry Examination Boards (LCCIEB). Yaitu lembaga uji di Inggris yang sudah ada sejak lebih dari 100 tahun yang lalu. Meskipun menggunakan kurikulum dari luar, namun LSPR masih menggunakan kurikulum nasional. Tercatat, jumlah mata kuliah dari LCCIEB yang diadopsi LSPR mencapai 50 persen.<br />
Prita menjelaskan, keterlibatan LCCIEB tidak hanya sebatas penggunaan mata kuliah saja, namun juga meliputi penyelenggaraan ujian untuk beberapa mata kuliah. Mata kuliah yang ujiannya dari LCCIEB adalah, mata kuliah PR, Marketing, Mass Communication, English for Business of Communication, dan mata kuliah Advertising.<br />
Selain menggunakan kurikulum dari luar, LSPR juga menekankan kepada bahasa Inggris. Bahkan dikatakan, bahasa Inggris merupakan keharusan bagi mahasiswa LSPR. Ini terlihat dari beban yang besar untuk mata kuliah bahasa Inggris. Selama empat semester awal, mahasiswa diharuskan untuk mengambil mata kuliah bahasa Inggris. Bahkan, bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar pun diusahakan menggunakan bahasa Inggris. &#8221;Baik oleh tenaga pengajar lokal maupun tenaga pengajar asing yang mengajar di sini,&#8221; jelas Prita.<br />
PR harus memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang memadai juga diakui oleh Ketua Jurusan Public Relations Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta Irmulan Sati T. Karena itulah, selain mata kuliah bahasa Inggris yang diberikan dengan porsi sembilan SKS, bahasa pengantar untuk mata kuliah lain pun menggunakan bahasa Inggris. &#8221;Setidaknya ada dua mata kuliah jurusan dalam satu semester yang menggunakan bahasa Inggris. Baik untuk bahasa pengantar, tugas maupun ujian,&#8221; jelas Irmulan.<br />
Jika Prita mengatakan peran PR memang lebih dekat dengan media, maka hal yang sedikit berbeda diungkap Irmulan. Ia mengatakan, peran PR lebih luas dari sekadar berhubungan dengan media. Karena pada dasarnya PR berhubungan dengan semua pihak yang ada kaitannya dengan instansinya. Seperti, karyawan, komunitas, media, investor, kelompok kepentingan, dan juga konsumen. Bahkan, secara struktural, PR berada dalam tataran manajemen.<br />
Karena itulah, pendidikan yang ditawarkan UMB tidak hanya menekankan kepada kemampuan teknis saja, seperti menyiapkan press release, menangani keluhan, dan mengadakan event. Melainkan juga kemampuan manajerial, seperti kemampuan untuk memecahkan masalah dan mengelola seluruh proses komunikasi di suatu instansi.<br />
Salah satu teknik dasar yang diajarkan program studi PR adalah teknik Solaat. Berdasarkan teknik ini, jelas Prita, seorang PR harus ada beberapa tahapan prosedur yang harus dilakukan oleh seorang PR dalam bekerja. Yaitu meliputi assessment (penilaian keadaan), tujuan, media komunikasi yang digunakan, anggaran, implementasi, dan evaluasi.<br />
Pada tahap assessment, seorang PR diharuskan untuk mengetahui bagaimana pandangan masyarakat, pandangan instansinya, serta pandangan dirinya sendiri mengenai proyek yang akan dijalankan. Setelah itu barulah ditentukan apa tujuan yang akan dicapai dari proyek tersebut. jika tujuan sudah didapat, maka barulah ditentukan media apa yang saling tepat yang akan digunakan. Sehingga tujuan dari proyek tersebut dapat tercapai. Setelah itu barulah ditentukan anggaran yang tepat. &#8221;Karena itulah, perencanaan dan penguasaan bidang masalah menjadi penting bagi seorang PR,&#8221; jelas Prita.<br />
Setelah tahap perencanaan selesai, tahap selanjutnya adalah implementasi dari perncanaan yang telah dibuat. Setelah implementasi, maka seorang PR harus mengadakan evaluasi terhadap proyek yang telah dilaksanakan. Irmulan mengatakan, kemampuan teknis dan manajerial yang diberikan, harus juga diimbangi dengan etika bisnis yang baik.<br />
Bagaimana caranya berjabat tangan, berbicara dengan orang banyak dan sebagainya. Karena itu, mata kuliah mengenai etika berbisnis juga menjadi salah satu yang menjadi perhatian. Atas dasar itu, Irmulan menjelaskan, UMB menggunakan kurikulum yang diarahkan untuk membangun reputasi organisasi. &#8221;Dalam kurikulum ini, semua mata kuliah kami arahkan untuk membangun reputasi organisasi. Contohnya adalah mata kuliah etika, yang mengajarkan etika yang baik dalam berbisnis,&#8221; ungkap Irmulan. ci1<br />
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=311782&amp;kat_id=151,Google,11/4/2007 9:33:53 AM</p>
<p>Public Relations ( I )	</p>
<p>Bagi sebagian orang, Public Relations Officer, Public Relations Specialist&#8211;yang biasa dikenal dengan nama PR, cenderung disamakan dengan profesi Hubungan Masyarakat (Humas). Well, anggapan ini memang tidak sepenuhnya keliru, walaupun tidak juga tepat sekali. Hal ini tergantung dari sudut pandang dan opini publik yang sudah terlanjur menancap di masyarakat, bahwa humas pada dasarnya &#8220;hanya&#8221; bertindak sebagai &#8220;tukang siar&#8221;, yang jalinan kerjanya biasanya erat berkaitan dengan media massa. PR, pada kenyataannya, lingkup kerjanya tidak hanya terbatas pada menjalin hubungan dengan media massa. </p>
<p>Berikut kami sajikan deskripsi kerja seorang PR, mudah-mudahan dapat memperbaiki anggapan-anggapan kurang tepat mengenai profesi yang sebenarnya sangat kompleks ini. Sengaja kami bagi artikel ini dalam 2 edisi, karena sesungguhnya cukup banyak seluk-beluk dunia kerja seorang PR yang cukup pantas untuk dicermati. </p>
<p>&#8220;Public Relations itu sangat luas artinya,&#8221; ujar sumber CyberJob, Siska Widyawati, yang pernah mengecap pengalaman 5 tahun sebagai seorang PR di sebuah agensi periklanan besar di Jakarta Pusat. Di sana (Amerika-Red), hampir di setiap perusahaan memiliki seorang PR, karena mereka sudah mengerti betul seluk beluk tugas seorang PR. Tapi di Indonesia, PR biasanya hanya dimaknai sebagai tenaga marketing, atau sebagai juru siar. </p>
<p>Tugas-tugas inti seorang PR </p>
<p>&#8220;Public relations bukan hanya seorang juru siar,&#8221; ujar Siska. Berikut Siska memaparkan beberapa job description PR yang disebutnya sebagai &#8220;nature of work&#8221;. </p>
<p>1. Reputasi, keberuntungan, bahkan eksistensi lanjutan dari sebuah perusahaan, dapat bergantung dari keberhasilan PR menafsirkan target publik untuk mendukung tujuan dan kebijakan dari perusahaan yang bersangkutan. Seorang PR specialiast menyajikan hal tersebut sebagaimana halnya seorang penasihat dalam bidang bisnis, asosiasi non-profit, universitas, rumah sakit dan organisasi lain. Selain itu, mereka juga membangun dan memelihara hubungan positif dengan publik. </p>
<p>2. Seorang PR mengurus fungsi-fungsi organisasi, seperti menghadapi media, komunitas dan konsumen. Dalam hubungannya dengan pemerintah, mereka mengurus kampanye politik, representasi para interest-group, sebagai conflict-mediation, atau mengurus hubungan antara perusahaan tempat mereka bekerja dengan para investor. Seorang PR tidak hanya berfungsi untuk &#8220;mengatakan sejarah organisasi&#8221;, tapi mereka juga dituntut untuk mengerti tingkah-laku dan memperhatikan konsumen, karyawan dan kelompok lain yang juga merupakan bagian dari deskripsi kerjanya. Untuk meningkatkan komunikasi, seorang PR juga membangun dan memelihara hubungan yang koperatif dengan wakil-wakil komunitas, konsumen, karyawan dan public interest group, juga dengan perwalian dari media cetak dan broadcast. </p>
<p>3. Seorang PR menyampaikan informasi pada publik, interest group, pemegang saham, mengenai kebijakan, aktivitas dan prestasi dari sebuah organisasi. Tugas tersebut juga berhubungan dengan mengupayakan pihak manajemen untuk supaya tetap sadar terhadap tingkah laku publik dan menaruh perhatian terhadap grup-grup dan organisasi, dengan siapa mereka biasa berhubungan. </p>
<p>4. Seorang PR menyiapkan pers rilis dan menghubungi orang-orang di media, yang sekiranya dapat menerbitkan atau menyiarkan material mereka. Banyak laporan khusus di radio atau televisi, berita di koran dan artikel di majalah, bermula dari meja seorang PR. </p>
<p>5. Seorang PR juga mengatur dan mengumpulkan program-program untuk memelihara dan mempertahankan kontak antara perwalian organisasi dan publik. Mereka mengatur speaking engagement, pidato untuk kepentingan sebuah perusahaan, membuat film, slide, atau presentasi visual lain dalam meeting dan merencanakan konvensi. Sebagai tambahan, mereka juga bertanggung jawab menyiapkan annual reports dan menulis proposal untuk proyek-proyek yang beragam. </p>
<p>6. Dalam pemerintahan, seorang PR&#8211;yang kemungkinan akan disebut sebagai &#8220;sekretaris pers&#8221;, &#8220;information officer&#8221;, &#8220;public affair specialist&#8221; atau &#8220;communications specialist&#8221;, bertugas menginformasikan pada publik mengenai aktivitas yang dilakukan agen-agen pemerintah dan pegawai-pegawai resminya. </p>
<p>7. PR yang berurusan dengan publisitas untuk individual, atau mereka yang menangani public relations untuk organisasi kecil, kemungkinan akan berurusan dengan semua aspek pekerjaan. Mereka akan menghubungi orang-orang, merencanakan dan melakukan penelitian dan menyiapkan material untuk distribusi. Mereka juga mengurusi pekerjaan advertising atau sales promotion untuk mendukung kegiatan marketing.<br />
http://cdc.eng.ui.ac.id/article/articleview/2254/1/4/,Google,11/4/2007 9:35:41 AM</p>
<p>Abdul Irsan: Indonesia Perlu &#8220;PR&#8221;<br />
Jakarta, Kompas &#8211; Sudah saatnya Indonesia, memiliki sistem public relation (PR) yang kuat, andal, mempunyai akses ke dunia internasional, dan didukung oleh seluruh komponen bangsa, khususnya media massa di Inonesia.<br />
Pendapat itu diungkapkan mantan Duta Besar (Dubes) RI untuk Belanda Abdul Irsan (63) di Jakarta, Rabu (5/3), ketika meluncurkan buku karyanya, &#8220;Hubungan Indonesia-Belanda: Antara Benci dan Rindu&#8221;. Pada kesempatan itu, ia sekaligus berpamitan kepada seluruh kerabat dekatnya. Kamis malam ini, ia bertolak ke Jepang untuk menunaikan tugas barunya sebagai Dubes RI untuk Jepang.<br />
Pernyataan perlunya &#8220;PR&#8221; itu ia ungkapkan, berdasarkan pengalamannya sebagai Dubes RI di Belanda. Lelaki kelahiran Sampang, Madura, 14 Oktober 1946, itu melihat, ada semacam &#8220;ketimpangan&#8221; informasi dalam sejarah Indonesia. Ia agak prihatin ketika menghadapi kenyataan lebih banyak sejarah Indonesia yang merupakan versi atau setidaknya dikeluarkan dari pihak Belanda. Ia tak banyak menemukan paparan sejarah Indonesia yang benar-benar berasal dan menggunakan kacamata Indonesia.<br />
&#8220;Masalah pokoknya, Belanda memiliki kemampuan lebih besar dari Indonesia dalam mempengaruhi opini dunia, karena kemampuan teknologi komunikasi dan kenyataan Belanda sebagai bagian dari &#8220;dunia Barat&#8221; yang lebih banyak memiliki akses ke dunia internasional,&#8221; jelasnya.<br />
&#8220;Lalu, bagaimana reaksi kita atau sikap politik kita sebagai bangsa Indonesia jika suatu saat nanti, generasi setelah kita hanya memahami sejarah Indonesia versi Belanda? Dan bagaimana jika nanti sejarah versi Belanda itu yang diterima masyarakat internasional, terutama dalam menilai sejarah hubungan antara Indonesia-Belanda?&#8221; lanjutnya.<br />
Keprihatinan itu digarisbawahi Arizal Effendi, Dirjen Amerika dan Eropa Deplu ketika menyampaikan kesan dan harapannya. Mantan Dubes RI di Australia itu mencatat, selama bertugas di Australia, banyak acara yang akhirnya hanya membahas perkembangan di dalam negeri Indonesia, dalam forum yang bertajuk &#8220;Hubungan RI-Australia&#8221;. &#8220;Perkembangan Australia tidak pernah dibahas, jadi akhirnya hanya mereka yang mendapat informasi tentang kita, dan kita tidak pernah mendapat info tentang mereka,&#8221; ujarnya.<br />
Untuk memperjelas, Effendi mengambil contoh kebijakan bebas visa kunjungan sementara (BVKS) yang juga disinggung Abdul Irsan dalam hukunya. Hal itu antara lain membuat wartawan asing, termasuk Belanda bebas menjelajah wilayah RI dan membuat laporan negatif tentang RI. &#8220;Jadi, kebijakan ini lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya,&#8221; ujar Arizal Effendi.<br />
Abdul Irsan memperjelas hal itu dengan menunjuk kasus VOC dalam official handbook Indonesia. Buku pegangan itu menyebutkan, Indonesia secara resmi mengakui kehadiran VOC semata-mata untuk berdagang, bukan menjajah. &#8220;Saya begitu yakin, pengertian yang dianut itu merupakan keberhasilan diplomasi Belanda dalam melobi Indonesia,&#8221; katanya. Karena itu, ketika masih menjabat Dubes RI di Belanda, ia menolak menghadiri peringatan VOC, 20 Maret 2002 lalu.(rie)<br />
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0303/06/ln/167140.htm,Google,11/4/2007 9:38:04 AM</p>
<p>•	Sejarah dan Perkembangan Public Relations<br />
Humas kependekan dari hubungan masyarakat. Hal ini seringkali disederhanakan sebagai sebuah terjemahan dari istilah Public Relations (PR). Sebagai ilmu pengetahuan, PR masih relatif baru bagi masyarakat Indonesia. PR sendiri merupakan gabungan berbagai imu dan termasuk dalam jajaran ilmu-ilmu sosial seperti halnya ilmu politik, ekonomi, sejarah, psikologi, sosiologi, komunikasi dan lain-lain.<br />
Dalam kurun waktu 100 tahun terakhir ini PR mengalami perkembangan yang sangat cepat.  Namun perkembangan PR dalam setiap negara itu tak sama baik bentuk maupun kualitasnya.Proses perkembangan PR lebih banyak ditentukan oleh situasi masyarakat yang kompleks.<br />
PR merupakan pendekatan yang sangat strategis dengan menggunakan konsep-konsep komunikasi (Kasali, 2005:1). Di masa mendatang PR diperkiraan akan mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Pemerintah AS mempekerjakan 9000 karyawan di bidang komunikasi yang ditempatkan di United States Information Agency.<br />
Perkembangan Humas di Dunia<br />
Dalam sejarahnya istilah Public Relations sebagai sebuah teknik menguat dengan adanya aktivitas yang dilakukan oleh pelopor Ivy Ledbetter Lee yang tahun 1906 berhasil menanggulangi kelumpuhan industri batu bara di Amerika Serikat dengan sukes. Atas upayanya ini ia diangkat menjadi The Father of Public Relations.<br />
Perkembangan PR sebenarnya bisa dikaitkan dengan keberadaan manusia. Unsur-unsur memberi informasi kepada masyarakat, membujuk masyarakat, dan mengintegrasikan masyarakat, adalah landasan bagi masyarakat.<br />
Tujuan, teknik, alat dan standar etika berubah-ubah sesuai dengan berlalunya waktu. Misalnya pada masa suku primitif mereka menggunakan kekuatan, intimidasi atau persuasi ntuk memelihara pengawasan terhadap pengikutnya. Atau menggunakan hal-hal yang bersifat magis, totem (benda-benda keramat), taboo (hal-hal bersifat tabu), dan kekuatan supranatural.<br />
Penemuan tulisan akan membuat metode persuasi berubah. Opini publik mulai berperan. Ketika era Mesir Kuno, ulama merupakan pembentuk opini dan pengguna persuasi. Pada saat Yunani kuno mulai dikembangkan Olympiade untuk bertukar pendapat dan meningkatkan hubungan dengan rakyat. Evaluasi mengenai pendapat atau opini publik merupakan perkembangan terakhir dalam sejarah kemanusiaan.<br />
Dasar-dasar fungsi humas ditemukan dalam revolusi Amerika. Ketika ada gerakan yang direncanakan dan dilaksanakan. Pada dasarnya, masing-masing periode perkembangan memiliki perbedaaan dalam startegi mempengaruhi publik, menciptakan opini publik demi perkembangan organisasinya.<br />
Berikut gambaran kronologis PR di dunia:<br />
Abad ke-19 <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> R di Amerika dan Eropa merupakan program studi yang<br />
                         mandiri didasarkan pada perkembangan  Ilmu<br />
                         pengetahuan dan teknologi.<br />
1865-1900 <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ublik masih dianggap bodoh<br />
1900-1918	: Publik diberi informasi dan dilayani<br />
1918-1925	: Publik diberi pendidikan dan dihargai<br />
1925	 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> i New York, PR sebagai pendidikan tinggi resmi<br />
1928	 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> i Belanda memasuki pendidikan tinggi dan minimal di<br />
                         fakultas sebagai mata kuliah wajib.  Disamping itu<br />
                         banyak diadakan kursus-kursus yang bermutu<br />
1945-1968 <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ublik mulai terbuka dan banyak mengetahui<br />
1968	 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> i Belanda mengalami perkembangan pesat. Ke arah<br />
                        ilmiah karena penelitian yang rutin dan kontinyu.<br />
                         Di Amerika perkembangannya lebih ke arah bisnis.<br />
1968-1979 <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ublik dikembangkan di berbagai bidang,<br />
                         pendekatan tidak hanya satu aspek saja<br />
1979-1990 <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> rofesional/internasional memasuki globalisasi dalam<br />
                          perubahan mental dan kualitas<br />
1990-sekarang	: a.	perubahan mental, kualitas, pola pikir, pola pandang,<br />
                                  	sikap dan  pola perilaku secara nasioal/internasional<br />
                          b.	membangun kerjasama secara lokal, nasional,  internasional<br />
                          c.	saling belajar di bidang politik, ekonomi, sosial budaya,<br />
                                  	Iptek, sesuai dengan kebutuhan era global/informasi<br />
Asal Mula Istilah<br />
Pengertian :<br />
1.	Hubungan dengan masyarakat luas baik melalui publisitas khususnya fungsi-fungsi organisasi dan sebagainya terkait dengan usaha menciptakan opini publik dan citra yang menyenangkan untuk dirinya sendiri (Webster’s New World Dictionary)<br />
2.	Fungsi manajemen yang mengevaluasi sikap publik, mengidentifikasi kebijaksanan dan prosedur seorang individu atau organisasi berdasarkan kepentingan publik dan menjalankan suatu program untuk mendapatkan pengertian dan penerimaan publik (Public Relations News)<br />
3.	Filsafat sosial dan manajemen yang dinyatakan dalam kebijaksanaan beserta pelaksaannya yang melalui interpretasi yang peka mengenai peristiwa-peristiwa berdasarkan pada komunikasi dua arah dengan publiknya, berusaha memperoleh saling pengertian dan itikad baik (Moore, 2004: 6).<br />
Public Relations yang diterjemahkan menjadi hubungan masyarakat (humas)  mempunyai dua  pengertian.  Pertama,  humas dalam artian sebagai  teknik komunikasi  atau  technique   of communication dan kedua,  humas sebagai  metode komunikasi atau  method of communication (Abdurrahman, 1993: 10).  Konsep Public Relations sebenarnya berkenaan dengan kegiatan penciptaan pemahaman melalui pengetahuan, dan melalui kegiatan-kegiatan tersebut akan muncul perubahan yang berdampak (lihat Jefkins, 2004: 2).<br />
Public Relations menyangkut suatu bentuk komunikasi yang berlaku untuk semua organisasi (non profit &#8211; komersial, publik- privat, pemerintah &#8211; swasta). Artinya Public Relations jauh lebih luas ketimbang pemasaran dan periklanan atau propaganda, dan telah lebih awal.<br />
Dewasa ini, Public Relations harus berhadapan dengan fakta yang sebenarnya, terlepas dari apakah fakta itu buruk, baik, atau tanpa pengaruh yang jelas. Karena itu, staf Public Relations dituntut mampu menjadikan orang-orang lain memahami suatu pesan, demi menjaga reputasi atau citra lembaga yang diwakilinya.<br />
http://rumakom.wordpress.com/2007/10/05/sejarah-dan-perkembangan-public-relations/,Google,04/11/2007 9:49:11</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rakamura.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rakamura.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rakamura.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rakamura.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rakamura.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rakamura.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rakamura.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rakamura.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rakamura.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rakamura.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rakamura.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rakamura.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rakamura.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rakamura.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rakamura.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rakamura.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rakamura.wordpress.com&amp;blog=1984467&amp;post=12&amp;subd=rakamura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rakamura.wordpress.com/2007/11/05/public-relation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fc1976ae7ab9b0902864789b63dc383?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rakamura</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>aLL aboUt me BabEs!!</title>
		<link>http://rakamura.wordpress.com/2007/10/25/hello-world/</link>
		<comments>http://rakamura.wordpress.com/2007/10/25/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Oct 2007 00:35:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rakamura</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rakamura.wordpress.com&amp;blog=1984467&amp;post=1&amp;subd=rakamura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rakamura.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rakamura.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rakamura.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rakamura.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rakamura.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rakamura.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rakamura.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rakamura.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rakamura.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rakamura.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rakamura.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rakamura.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rakamura.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rakamura.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rakamura.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rakamura.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rakamura.wordpress.com&amp;blog=1984467&amp;post=1&amp;subd=rakamura&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rakamura.wordpress.com/2007/10/25/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fc1976ae7ab9b0902864789b63dc383?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rakamura</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
